Batik Kudus, Oleh-oleh yang Berbeda

KUDUS – Jika oleh-oleh makanan khas belum cukup bagi Anda, satu lagi oleh-oleh asal Kudus yang tidak boleh dilewatkan. Batik. Ya, sekarang Anda bisa menemukan batik Kudus yang tentunya kaya dengan filosofi tersendiri.

Salah satu yang cukup dikenal adalah Muria Batik Kudus. Usaha milik Yuli Astuti ini, menjadi usaha batik yang sudah dikenal di berbagai kalangan. Termasuk juga mereka yang berada di luar kota, juga sedikit banyak sudah mendengar soal batik ini.

”Batik Kudus memang bisa dijadikan oleh-oleh. Meski dasarnya memang sama yakni batik, namun batik Kudus memiliki filosofi yang kemudian membuatnya berbeda dengan batik dari daerah lain, yang juga punya filosofinya sendiri,” jelas Yuli Astuti, sang pemilik Muria Batik Kudus.

Menurut Yuli, batik Kudus coraknya lebih condong ke batik pesisiran. Karena ada kemiripan dengan batik Pekalongan maupun Lasem. Ini bisa dimengerti, karena secara geografis daerah Kudus berdekatan dengan keduanya. Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin Tiongkok, dikenal dengan batik nyonya atau batik saudagaran, yang mempunyai ciri khas kehalusan dan kerumitannya dengan isen-isen-nya. 

”Sedang batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin asli Kudus atau pribumi, dipengaruhi oleh budaya sekitar. Dan coraknya juga dipengaruhi batik pesisiran. Motif yang dibuat mempunyai arti ataupun kegunaan. Misalnya untuk acara akad nikah dan lain sebagainya,” ujarnya.

Batik di Muria Batik Kudus sendiri, dikerjakan di workshop yang ada di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Setiap harinya, pekerja membuat batik-batik halus tersebut, dengan motif yang sudah ada sebelumnya. ”Meskipun saya juga setiap saatnya memang selalu berupaya agar ada inovasi motif batik yang baru pada produk saya,” terangnya.

Beberapa motif yang cukup terkenal adalah motif parijoto, kapal kandas, pakis haji, cengkeh, tembakau, gebyok, Menara Kudus, dan lain sebagainya. Masing-masing motif memiliki filosofinya tersendiri. Selalu ada cerita yang bisa disimak dari selembar kain batik yang diproduksi Muria Batik Kudus. ”Karena tujuannya bikin batik kan, memang untuk melestarikan berbagai macam sejarah yang melatarbelakangi sebuah motif. Supaya masyarakat tidak lupa akan sejarah mereka sendiri. Dan terus menempel di selembar kain batik yang dipakai,” tuturnya.

Untuk warna-warnanya sendiri, sangat beragam. Kebanyakan memang cerah, soft, dan sebagainya. Apalagi sekarang ini, sudah dikembangkan batik dengan warna-warna alam. Karena tren yang ada sekarang memang mengarah kepada tren alam, yang sebelumnya sempat tenggelam. Sebagai parameternya permintaan pangsa pasar batik dengan warna tersebut, juga mulai meningkat. Padahal produksinya sudah terbatas.

Yuli menjelaskan, permintaan batik warna alam memang saat ini mulai meningkat kembali. Faktornya adalah adanya persaingan tren dan desain fesyen yang saat ini juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. ”Biasanya batik warna alam ini dijadikan sebagai kombinasi dalam berbusana. Otomatis hal ini memicu terjadinya peningkatan permintaan,” katanya.

Tidak hanya itu saja. Perajin juga dituntut untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas batik agar tidak monoton. ”Ini merupakan tantangan tersendiri dan harus direalisasikan oleh para perajin untuk menghadapi persaingan,” terangnya.

Selain kain batik, Yuli juga memproduksi beberapa item oleh-oleh lain yang masih bernuansa batik. Misalnya sajadah, kaus, dan berbagai produk lain yang bisa dipilih. Karena itu, jika memang menginginkan oleh-oleh yang berbeda, batik Kudus memang bisa menjadi pilihan. Dan bisa dijadikan koleksi tersendiri. (Merie)