Soto, Tak Pernah Lekang Dimakan Waktu

KUDUS – Rasa rindu akan masakan asli di kampung halaman, tentunya memang sangat menggugah hati untuk memburunya. Apalagi saat mudik Lebaran seperti sekarang ini.

Warung-warung soto yang ada di Kudus, tidak pernah sepi dari pembeli. Tidak saja saat liburan Lebaran, namun pada hari-hari biasa, juga padat dengan mereka yang memang sudah terbiasa dengan kekhasan masakan satu ini.

Soto Kudus memang istimewa. Begitu terkenalnya, soto ini menjadi salah satu soto yang diminati berbagai kalangan. Dan saat para pemudik pulang kampung, menyerbu warung soto yang ada di Kudus, menjadi salah satu pengobat rasa kangen yang mendalam.

Ada beberapa warung soto Kudus yang selalu diburu pembeli. Baik mereka perantuan maupun mereka yang sekadar singgah di Kudus ini. Sebut saja soto Ramidjan di Jalan Kudus-Jepara, kemudian soto Bu Djatmi di Jalan Wahid Hasyim, soto Pak Denuh di Jalan Agil Kusumadya, dan soto Karso Karsi di Jalan Agil Kusumadya. Semuanya enak, dengan sajian pelengkap yang menggoda selera.

Makan soto di Kudus, biasanya bisa memilih daging yang menjadi isiannya. Apakah soto ayam atau soto daging. Dan daging yang digunakan adalah daging kerbau, karena menurut ajaran Sunan Kudus, memang dulunya tidak diperbolehkan menyembelih sapi untuk dijadikan olahan makanan. Tradisi itu masih kuat sampai sekarang.

Jadilah soto yang dijumlah di Kudus ini, adalah soto kerbau. Sedangkan bagi yang tidak suka, bisa memilih soto ayam. Biasanya, warung makan yang menjual soto, akan memiliki dua menu itu untuk dipilih konsumennya. Semunya nikmat untuk disantap bersama keluarga.

”Selalu saja soto Kudus yang saya inginkan untuk disantap saat Lebaran. Apalagi setelah menyantap aneka hidangan berat, ya. Pastinya saya ingin merasakan kembali bagaimana rasanya soto Kudus, asli di Kudus,” kata Siti Aisyah, salah seorang perantau asal Kudus yang sekarang tinggal di Bekasi, Jakarta.

Kesempatan menikmati soto Kudus asli di Kudus, biasanya memang jarang terjadi pada Sri. Meski di Jakarta ada juga warung yang menjual soto Kudus, namun rasanya tetap saja beda. ”Saya tidak tahu kenapa kok bisa begitu. Merasakan soto Kudus itu ya harus di Kudus. Meski saya jarang-jarang pulang memang. Kalau di Jakarta, sotonya terasa ada yang beda,” tuturnya.

Warung-warung yang menjual soto ini, memang terbilang gampang untuk dituju. Meski dengan lokasi parkir yang terkadang sempit, tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk menikmatinya. Bahkan semangkok tidak cukup. Mereka bisa menambah dua sampai tiga kali. 

Soto sangat nikmat jika disantap dengan aneka lauk yang menyertainya. Satu hal yang khas di Kudus adalah sate paru. Sate ini memang berasal dari jeroan paru yang direbus dengan aneka bumbu, dan kemudian digoreng setengah kering. Rasanya yang gurih dan kenyal, membuatnya sangat nikmati jadi teman bersantap.

Tidak lengkap rasanya menikmati soto tanpa perkedel. Kekhasan perkedel di warung soto Kudus adalah melimpahnya balutan kocokan telur yang membalutnya sepotong perkedel. Gigitan renyah dari kremesan telur itu, kemudian berpadu dengan lembutnya perkedel kentang. Jika mengharap ada daging di dalamnya, Anda bisa kecele. Pasalnya, perkedel di soto Kudus memang hanya terdiri dari campuran kentang, bumbu, dan telur saja. (Merie)