Menyingkap Lagi Kebesaran Kota Lama

KUDUS – Sebuah perjalanan menjelajahi kebesaran kota lama Kudus, adalah sebuah hal yang sedang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Hanya, tahukah Anda di mana yang dimaksud dengan kota lama tersebut?

Kawasan Menara Kudus adalah kawasan kota lama yang coba dihidupkan kembali oleh Disbudpar. Sebuah kota yang menyimpan sejarah berdirinya Kabupaten Kudus. Tempat di mana Sunan Kudus memulai sebuah kerajaan kecil bernama Al-Quds atau suci. 

Pusat kota lama dipercaya ada di desa-desa yang ada di sekitar pusat Masjid dan Menara Kudus. Yakni di Desa Kauman, Kerjasan, Langgar Dalem, Demangan, Janggalan, Damaran, dan Kajeksan. Bahkan, menurut cerita, dahulunya Menara Kudus bisa dilihat langsung dari jalanan utama yang ada di sana. Tidak seperti sekarang, yang tertutup berbagai bangunan. 

Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Sancaka DS mengatakan, pengambangan kawasan tersebut memang sudah sejak lama diwacanakan. ”Kami menyebutnya sebagai Kawasan Wisata Kudus Kulon. Dan sekarang ini, kami sedang menunggu pembahasan rencana selanjutnya dalam Rencana Induk Pengembangan Wisata Daerah yang dilakukan Bappeda dan instansi terkait,” tuturnya.

Bagian-bagian yang masuk ke dalam Kawasan Wisata Kudus Kulon, menurut Sancaka, meliputi masjid, makam, dan Menara Kudus, kemudian Masjid Langgardalem (rumah tinggal Sunan Kudus), rumah Nitisemito, Masjid Bubar, kelenteng sebelah menara, rumah adat Kudus, Rumah Kapal, dan beberapa lokasi peninggalan lainnya.

Dikatakan Sancaka, bahwa kawasan kota lama menjadi sebuah identitas yang memiliki keunikan, kekhasan, yang tidak terbandingi dan sekaligus merupakan karya budaya yang wajib terus dilestarikan. ”Ini dimaksudkan bahwa dengan menghidupkan kembali kawasan kota lama Kudus, berarti ikut menghidupkan pula warisan budaya yang sewaktu-waktu bisa tenggelam,” imbuhnya.

Misalnya saja, terkait dengan posisi pemerintahan di Kudus pada waktu itu. Menurut Sancaka, semuanya memang dilaksanakan di Masjid Menara. Segala urusan pemerintahan, memang dilakukan di sana. ”Sekarang ini, kami sedang mencari, di mana persisnya kediaman Sunan Kudus. Karena kami yakin bahwa kediaman beliau itu ada di sekitar Menara Kudus. Itu yang hendak kemudian kami angkat juga,” katanya.

Ada banyak hal di sekitar Masjid dan Menara Kudus yang memang sangat patut untuk terus dieksplorasi. Karena, sejarah Kudus sebenarnya ada di sana. Bahkan dipercaya, berdirinya Masjid Menara Kudus juga adalah awal berdirinya Kabupaten Kudus. Ini sebagaimana ditemukan dalam temuan baru belakangan ini.

Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menemukan satu fakta baru terkait hari jadi. Dari prasasti atau manuskrip yang ditemukan, diyakini betul bahwa sebenarnya hari jadi Kudus jatuh pada tanggal 19 Rajab 956 Hijriah. Atau jika dikonversikan ke penanggalan Masehi, maka hari jadi Kudus jatuh pada 23 Agustus 1549 Masehi. Sedangkan yang sudah ditetapkan selama ini, hari jadi Kudus jatuh pada 23 September.

Hal ini terungkap dari sarasehan bertajuk Pemantapan Pembacaan Prasasti Pendirian Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, yang berlangsung di Gedung Menara, pada Minggu (18/5) malam kemarin. Dalam kesempatan itu, turut membacakan prasasti ”tetenger” hari jadi Kudus, KH Syaifudin Luthfi, seorang ahli falaq. Hadir juga Ketua YM3SK H Em Nadjib Hasan selaku tuan rumah, dan sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.

Adanya tanggal 19 Rajab 956 H itu, didapat dari Prasasti Condro Sengkolo jenis lombo yang berarti gampang dimengerti. Prasasti ini, ditemukan di atas mighrab atau tempat pengimaman yang ada di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. ”Membaca prasasti itu sendiri memang sulitnya bukan main,” kata KH Syaifudin Luthfi. (Merie)