Kejari Kudus Akan Telusuri ”Penikmat” Logistik Bencana

KUDUS – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus tidak hanya berhenti kepada para tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan logistik bencana pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Namun lembaga tersebut juga akan menelusuri siapa saja ”penikmat” logistik bencana tersebut.

Kepala Kejari Kudus Amran Lakoni mengatakan, dugaan korupsi tersebut tentu saja tidak hanya berhenti kepada tiga orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. ”Kalau ditanya apakah kemudian bisa sampai kemana-mana, saya katakan pasti bisa,” terangnya saat ditemui, kemarin (27/6).

Termasuk juga, menurut Amran, siapa saja yang kemudian diduga turut ”menikmati” logistik bencana yang dianggarkan tahun 2012 lalu itu. ”Logikanya kan, begitu. Ini ada pengadaan logistik bencana, tapi saat itu diketahui tidak ada bencana. Nah, kemana logistik tersebut kan, perlu dicek. Itu yang akan kita dalami nanti saat penyidikan lebih lanjut,” terangnya.

Mengetahui kemana saja barang-barang atau logistik tersebut larinya, menurut Amran, juga penting dilakukan. Pasalnya, ini untuk memastikan bahwa apakah memang barang itu digunakan untuk kepentingan bencana sebagaimana kepentingan anggarannya, atau untuk kepentingan lainnya.

”Itu juga memang perlu diselidiki. Kalau kemudian ada masukan lain ke kita bahwa barang itu misalnya digunakan untuk kepentingan lain, ya tetap akan kita telusuri. Kan, kita juga sudah melakukan penyidikan lapangan beberapa waktu lalu ke kantor BPBD,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, Kejari Kudus memang sudah melakukan pemeriksaan lapangan ke kantor BPBD Kudus. Ini dilakukan untuk mencari dokumen-dokumen terkait dengan keluarnya anggaran tersebut, termasuk bukti-bukti fisik yang diperlukan sebagai penunjang penyidikan.

Dalam salah satu temuan, memang ada sejumlah kebutuhan logistik yang dikatakan sebagai logistik tahun 2012 dari anggaran yang dipersoalkan tersebut. Misalnya saja karung beras. Hanya, jika dalam nomenklaturnya karung beras harusnya berukuran 10 kilogram, yang ditemukan di gudang BPBD karung berasnya berukuran 25 kilogram. Ada juga perbedaan dari fisik karung itu sendiri, yang terlihat sebagai karung baru. Padahal, dikatakan jika karung tersebut adalah pembelian pada anggaran tahun 2012 lalu.

Hal-hal itulah yang kemudian akan didalami penyidik Kejaksaan. Amran mengatakan, pihaknya saat ini memang masih terus meminta keterangan dari sejumlah saksi. Salah satunya dilakukan, untuk mengetahui sejauhmana penyebaran aliran logistik tersebut. 

”Karena saksinya memang cukup banyak, ya. Jadi kita periksa terus. Kalau tersangkanya, barangkali baru pekan depan kita panggil. Sekarang saksi dulu. Karena siapa tahu dari kesaksian mereka ini, bisa muncul juga tersangka baru. Kan, kita tidak tahu,” katanya.

Amran mengatakan, sebenarnya dirinya sudah bisa menggambarkan jika memang akan ada tersangka baru. Hanya saja, dia akan melihat sejauhmana penyidikan yang sudah dilakukan anak buahnya. ”Sudah ada gambaran sebenarnya. Tapi itu nanti saja, ya. Jangan sekarang. Tunggu tanggal mainnya,” jelasnya.

Kejari Kudus sendiri sudah menetapkan tiga orang pegawai negeri sipil (PNS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan logistik bencana tahun anggaran 2012. Sedangkan nilai yang diduga disimpangkan dari dana pengadaan logistik tahun 2012 yang bersumber dari APBD Kudus tahun tersebut, adalah Rp 193 juta. Dari keseluruhan nilai belanja kebutuhan logistik di BPBD Kudus senilai Rp 600 juta.  (Merie)