Krisis Dana, Manajemen Persijap Kecewa pada Investor

JEPARA – Menunggaknya gaji pemain Persijap pada dua bulan terakhir menjadi persoalan baru bagi manajemen. Dikhawatirkan, situasi ini bisa mengurangi motivasi bertanding sehingga berimbas pada buruknya performa tim di lapangan. Terlebih lagi, Persijap dituntut bisa memenangkan pertandingan di laga terakhir putaran pertama melawan Persita Tangerang, Minggu (4/5) mendatang. Kemenangan mutlak dibutuhkan untuk memperbaiki posisi tim di papan klasemen.

CEO Persijap Mohammad Said Basalamah mengatakan, untuk mengatasi krisis keuangan yang melanda timnya, manajemen sedang berusaha untuk mencarikan solusi cepat. Salah satunya dengan melepaskan saham kepada pihak lain yang bisa mengendalikan Persijap secara utuh agar lebih sehat secara finansial. 

”Kami butuh investor yang lebih bonafide. Ini untuk menyelamatkan Persijap dari krisis finansial,” kata Basalamah kepada Koran Muria, kemarin.

Saat ini manajemen sedang mencari pengganti investor yang lebih bonafid. Mengingat, dengan kondisi finansial yang pas-pasan, diawal kompetisi Persijap pontang panting. Dana yang diberikan dari pembeli saham terbilag minim, yakni sekitar Rp 3 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membeli pemain dan mengarungi kompetisi.

“Dana sebesar itu tidak cukup. Buktinya baru paruh musim, sudah menipis dan terpaksa gaji pemian menunggak. Selain itu, kami tidak bisa membeli pemain yang lebih baik. Pendapatan dari pemasukan tiket penonton di Stadion Gelora Bumi Kartini (SGBK) belum bisa memberikan tambahan maksimal bagi tim,” terangnya.

Terpisah, Komisaris PT Jepara Raya Multitama Johar Lin Eng mengaku belum mengetahui banyak terkait kondisi Persijap. Bahkan, dia mendengar jika kondisi Persijap sedang krisis. Ketua Pengprov PSSI Jateng ini juga tidak terlalu mempersoalkan lantaran selama ini komunikasi dari manajemen dengannya juga jarang.

”Komunikasi jarang, saya sendiri belum tahu jelas persoalan yang ada. Kalau memang ingin mencari investor lain silahkan saja,” ungkapnya.

Johar menyatakan, jika ada investor yang bersedia membeli saham Persijap, pihaknya tidak akan mempersoalkannya. Bahkan, ia tidak berniat mengambil keuntungan selama memiliki saham saat membeli dengan niminal Rp 3 miliar.

”Kalau ada yang beli sahamnya, saya cukup minta dikembalikan uang dengan jumlah nominal yang sama, tidak lebih,” pungkasnya. 

Musim ini memang sangat berat bagi Persijap. Tim berjuluk Laskar Kalinyamat ini sepertinya tidak henti dirundung masalah. Silih berganti persoalan datang dan pergi. Di papan klasemen, Persijap kini menyandang status juru kunci Wilayah Barat. Belum juga performa tim membaik, Anam Syahrul dkk justru ”ditinggal” sang pelatih Raja Isa. 

Persoalan posisi juru taktik selesai setelah kapten tim Evaldo Silva diangkat sebagai karteker pelatih. Namun, masalah klasik kembali menghantui perjalanan tim kebanggaan warga Jepara tersebut. 

Para pemain Persijap belum menerima menerima gaji selama dua bulan terakhir ini. Situasi membuat manajemen kembali memutar otak lebih keras untuk memecahkan masalah nonteknis ini. Apalagi, satu-satunya tim Indonesia Super League (ISL) dari Jawa Tengah ini akan menghadapi laga tandang terakhir di putaran pertama pada Minggu (4/5) menghadapi Persita Tangerang.  (Wahyu Kz / Sundoyo Hardi)