Ironi Iklan Politik

Penulis: Dwi Supriyadi

Esais, Peminat masalah sosial keagamaan dan Santri di Bilik Literasi Solo 

 

Kini urusan partai politik tidak selalu terkait visi-misi. Peristiwa berpolitik justru lebih dominan dipenuhi peristiwa beriklan. Iklan dibuat menawan dengan hasrat kemenangan dan popularitas. Keberhasilan sosialisi suatu partai sering diukur dari frekuensi kemunculan iklan. 

Gambar, logo, nomor partai, dan figur sesering mungkin dimunculkan dalam iklan berharap merasuk dalam akal dan kalbu publik. Hari-hari media seperti koran, majalah, televisi, radio berjubel iklan partai politik. Berharap publik tergoda, memuji, dan akhirnya mencoblos partai politik yang beriklan.

Dalam beriklan setiap partai berhak menggunakan lambang apapun sebagai simbol yang mewakili ideologi partainya. Memang partai negeri ini selalu bergelimang simbol, gambar, dan angka. Termasuk salah satu partai Islam yang berhasrat menggunakan lambang kakbah, itu pun tidak menjadi masalah. Sah-sah saja. 

 

Namun jangan sampai menggunakan gambar milik umat secara berlebihan untuk kepentingan partai tententu. Tindakan itu justru membawa kesan memaksa dan menyakiti umat. Kesan ini saya dapatkan saat membaca iklan partai berlambang Ka’bah di salah satu koran nasional pada hari Rabu, 2 April 2014 kemarin. 

Dengan percaya diri sang pembuat iklan memasang foto lingkungan kakbah secara utuh (bukan kakbah saja) tapi dilengkapi dengan lautan manusia yang sedang thawaf dalam keadaan penuh haru menyentuh dinding kakbah.

Iklan ini saja sudah ganjil, masih ditambahi pemuatan ayat Al-Qur’an sebagai legitimasi atas pemaknaan ka’bah. “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman” (Q.S. Al-Baqarah: 125). Kemudian iklan ditutup dengan nama partai berlambang kakbah disertai  tagline “Rumah Besar Umat Islam”. 

Iklan ini seolah memaksa pembaca agar mengerti bahwa ada hubungan antara gambar kakbah sebagai rumah Allah (Baitullah) yang diluputi jutaan manusia, ayat Al-Qur’an dan partainya yang juga berlambang kakbah. Kini pertarungan dalam politik tidak saja permainan angka dan retorika, namun juga permainan ayat suci dan visualisasi. 

Di masa lalu kita masih ingat saat Soekarnoputri sebagai calon presiden secara resmi mendeklarasikan sebagai calon presiden. Ketika itu banyak politisi terutama yang berlatar belakang Islam menggunakan ayat dan hadis untuk tidak memilik pemimpin perempuan. 

Disampaikan dalam kultum, ceramah, sampai mimbar jumat. Provokasi itu berhasil mempengaruhi sebagian umat Islam namun tetap Megawati memenangkan pemilihan dan menjadi presiden. Politisi yang sering berkampanya menggunakan simbol Islam dan menukil ayat Al-Qur’an serta hadis.

 Tentu pembuat iklan memiliki orientasi dan tafsir sendiri. Mulai dari mahalnya biaya pemasangan iklan, strategi politik, keuntungan yang akan di dapat, hingga akhirnya memutuskan menaruh iklan ganjil ini di koran bertaraf nasional. Bahkan saya berani memastikan bahwa kerumunan orang yang ada di foto itu adalah jamaah haji yang sedang tawaf. Bukan kumpulan orang yang sedang kampanye mendukung partai politik tertentu. 

Kita tidak tahu apakah jamaah haji di foto itu rela fotonya digunakan dalam iklan partai berlambang kakbah. Seakan melegitimasi bahwa mereka adalah pendukung partai ini. Saya juga bertanya-tanya mengapa tidak menggunakan tokoh atau ketua umum saja sebagai figurnya. Justru pembuat iklan lebih memilih menggunakan jamaah haji, kakbah, dan ayat Al-Qur’an. Semoga tidak ada niat menjadikan Allah, Al-Qur’an, Muhammad, Ismail, Ibrahim, dan jama’ah haji sebagai tokoh mewakili partai ini. 

Asumsi dan praduga terkait pamrih iklan politik menjadi wajar. Apalagi jelas foto kakbah dan ayat Al-Qur’an yang dijadikan objek utama. Orientasi partai untuk menang dengan memikat konstituen sering mebawa misi pembodohan umat. Sakralitas ayat dan bangunan tidak lagi menjadi pijakan menghampiri sang Khaliq. Namun ditafsir menurut nafsu sebagai pijakan perebutan kekuasaan.

Kita bisa membayangkan dahulu nabi Ibrahim membangun kakbah dengan tangganya sendiri dibantu Ismail yang menolong mengambil dan memberikan batu-batu hitam kepadanya. Sebagai penutup celah-celahnya dipergunakan kapur putih. Tidak ada misi dan ambisi apapun terhadap kakbah selain kecintaan dan ketaatan. Bahkan mereka selaku pembuat tidak melegitimasi bahwa bangunan kakbah itu adalah miliknya. Kakbah adalah milik umat.

Kakbah selama ini dikenal sebai kiblat umat Islam dalam shalat. Kiblat menjadi representasi kata yang merujuk pada titik terpenting sekaligus garis tujuan. Jika kita tarik makna kiblat dalam kehidupan, pilihan kiblat seseorang akan membuat ia fokus tertuju di titik itu. Memandu seseorang dalam proses pengembaraan dan mengadapi segala rintangan. Kakbah sebagai kiblat menjadi sakral. Ia ibarat kompas yang menuntun seseorang pada pada sebuah jalan menuju tempat impian. Kemauan menjalankan tugas suci inilah yang akan menjadikan pelakunya memperoleh anugerah. 

Dr. Ali Shariati dalam Haji (2002) memberikan penjelasan bahwa hadirnya kakbah bukan saja sebagai rumah Allah (Baitullah) namun juga disebut sebagai rumah ummat manusia. Inilah yang harus diinsafi bahwa kakbah tidak dimiliki oleh siapapun juga. Ia bebas dari segala kekuasaan. Tidak seorang pun bisa menguasainya. kakbah adalah milik Allah. Sedangkan orang-orang yang berkunjung dan berada di sekitarnya sekadar menumpang.

Kakbah bagi umat Islam menjadi bangunan sakral. Perlambang ketetapan (konstansi) dan keabadian Allah. Di sinilah Allah, Ibrahim, Muhammad, dan manusia-manusia bertemu. Kakbah juga menjadi pusat agama, salat, cinta, hidup, dan kematian kita. Ke arah kakbah inilah kaum muslimin menemui ajal dan ke arah ini pulalah kaum muslimin dikuburkan. Apalagi ibadah tawaf. Kakbah semacam pusat tata surya yang mana manusia berkerumun mengelilingi layaknya bintang-bintang yang beredar pada orbitnya.

Maka sangat tidak etis jika foto umat yang sedang ibadah tawaf di sekeliling kakbah dijadikan iklan. Apalagi ayat yang ditempel pada iklan sekadar sekelumit dari Surah Al-Baqarah ayat 125 yang cukup panjang. Yang setelahnya terkandung pesan amat penting. ”Bersihkanlah rumah-Ku (Baitullah) untuk orang-orang yang thawaf, yang i´tikaf, yang ruku´ dan yang sujud”.

Kakbah harus tetap menjadi wilayah spiritual, imanen, dan transenden untuk tawaf, yang itikaf, yang rukuk dan yang sujud sebagi representasi dari ibadah. Bersih dari kepentingan dan keegoisan diri: sebagai penguasa yang licik, sebagai pemburu harta-kekayaan, sebagai tuan yang menindas, sebagai budak yang menghamba pada dunia. 

Walau kakbah telah disalahgunakan para politisi, kakbah tetap menjadi simbol pembuktian diri dan eksistensi seorang hamba kepada Sang Khaliq. Yang ada hanyalah suasana penuh hening, tafakur, cinta, dan kepasrahan diri. Kita doakan semoga elite partai politik dan pembuat iklan insaf, tidak lagi sembrono menggunakan gambar, simbol, hadis, dan ayat Al-Qur’an saat berkampanya atau mendekati konstituen. Terlebih saat Pilpres mendatang. Amin.(*)