Sekolah Kuliner Dapur Nusantara untuk 30 Jenis yang Ikonik

KUDUS – Ada begitu banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana masyarakat dunia belum mengenal atau memahami dengan baik Indonesia. Terkecuali dari sisi bahwa Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia, yang selalu teridentikkan dengan garis kerasnya.
Orang mancanegara bahkan masih juga menganggap Indonesia adalah bagian dari Bali, sebuah destinasi wisata paling populer yang dimiliki negara ini. Termasuk selama ini, setiapkali ditanya makanan khas Indonesia, masyarakat Indonesia juga masih kebingungan untuk bisa menyebutkannya. Bukan karena tidak ada, namun kuliner Indonesia selama ini berbasis daerah. Tidak bisa kemudian menyebutkan dengan pasti bahwa satu makanan sudah menjadi makanan khas Indonesia.
Karena itulah, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI kemudian tergerak untuk memunculkan kuliner khas Indonesia yang bisa dijadikan ikon. Menggandeng pakar-pakar kuliner nusantara seperti William Wongso dan Bondan Winarno, akhirnya pada akhir 2012 lalu, akhirnya disepakati 30 kuliner tradisional Indonesia, yang dijadikan ikon kuliner nusantara.

”Saat negara lain dengan fasih menyebutkan apa saja kuliner khas negara mereka, masyarakat Indonesia belum mampu melakukannya. Karena kuliner Indonesia begitu beraneka ragam. Tapi masih tergantung kepada daerahnya masing-masing. Misalnya soto, orang akan menyebut beraneka ragam soto, tergantung darimana dia berasal. Jika sudah ada ikon khas ini, maka soto hanya akan diwakili satu daerah saja, yang sudah terpilih,” jelas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, saat membuka Sekolah Kuliner Dapur Nusantara BNI (Kudapan BNI), di SMK 1 Kudus, awal Februari lalu.
Pemilihan 30 ikon kuliner tersebut, menurut Mari Elka, memang tidak mudah. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Yakni, makanan itu disukai banyak orang, kemudian bahannya mudah didapat, dan yang paling terpenting adalah harus ada filosofi atau cerita dari kuliner tersebut.
”Karena ketika kita menjual ikon kuliner tersebut ke masyarakat mancanegara, tarafnya akan naik kalau kemudian ada story behind atau cerita mengenai makanan tersebut. Ini juga untuk mengangkat dunia pariwisata di daerah setempat. Masyarakat akan semakin dibuat penasaran terkait makanan tersebut. Ini salah satu tujuan kenapa harus ada cerita mengenai makanan tersebut,” katanya.
Sosialisasi terhadap ke-30 makanan kuliner khas Indonesia tersebut, menurut Mari, akan terus dilakukan. Bukan saja kepada masyarakat Indonesia, melainkan juga ke masyarakat mancanegara melalui food diplomacy atau diplomasi makanan. Sebagaimana yang sudah dilakukan jika ada acara-acara Indonesia di luar negeri.
”Termasuk juga nantinya kita akan membuat ke-30 ikon kuliner nusantara ini secara hukum diakui legalitasnya. Entah itu nanti akan ada surat keputusan atau dipatenkan, yang jelas segera kita tindaklanjuti. Supaya ini benar-benar menjadi makanan khas Indonesia yang bisa diangkat dan dikenal di seluruh dunia,” imbuhnya.
MERIE