Mengembangkan Imajinasi Anak Melalui Kegiatan Relaksasi dan Meditasi Musik Klasik

Oleh: Ratna Widiana *)

TK Kemala Bhayangkari

 

Kami persembahkan tulisan ini kepada segenap para pendidik PAUD/TK serta para pembaca, yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan anak usia dini khususnya. Dalam artikel ini penulis ingin berbagi pengalaman dalam rangka meningkatkan kualitas profesional guru, melalui kegiatan mendidik anak, memfasilitasi, memberikan teladan, khususnya kualitas belajar melalui bermain, bermain seraya belajar dengan gembira.

Anak pada masa usia TK merupakan fase fundamental dan disebut sebagai usia emas (golden ages). Memandang anak sebagai investasi yang berharga yang memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda. Keberhasilan pendidik atau orang tua dalam memfasilitasi anak usia dini secara baik dalam mengembangkan kecerdasannya melalui aspek sosial emosional, bahasa, kognitif, seni pembentukan perilaku, nilai-nilai agama, dan moral. Serta kesehatan dan gizi anak usia dini sangat penting. Kebutuhan anak adalah bermain, melalui bermain mereka menemukan kegembiraan. Memberikan kegiatan belajar secara gembira sangat penting bagi anak.

Bagaikan 2 sisi mata uang, anak dilahirkan dalam keadaan suci atau seperti kertas putih (tabula rasa). Bagaimana nanti anak bangsa akan berakhlak baik atau sebaliknya, tergantung bagaimana ia dididik dan dibesarkan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat). Masa anak-anak tidak akan terulang. Sangat disayangkan apabila mereka tumbuh dan besar tanpa dibekali dengan pembentukan karakter (otak kanan) mempunyai rasa empati, asa percaya diri, rasa ingin tahu, motivasi, kejujuran sopan santun, nilai baik dan buruk, bertanggung jawab, menghormati orang lain, kepedulian tinggi dengan lingkungan (teman, tanaman, binatang), cinta tanah air, toleransi beragama, persahabatan. 

Padahal karakter yang baik sangat menentukan keberhasilan kognitif anak. Sebaliknya sebagai pendidik adalah tugas yang harus kita emban, bagaimana nantinya mereka calon pemimpin bangsa 20 hingga 50 tahun ke depan, menjadi generasi penerus bangsa yang mengedepankan nilai-nilai karakter luhur hingga anti korupsi, paling tidak pembangunan karakter bangsa sama pentingnya dengan pengembangan ekonomi dalam arti luas (pendidikan, kependudukan, sain, tehnologi). Gizi dan kesehatan , investasi. Khususnya pendidikan PAUD/TK memperlakukan anak dengan suara lembut, cara-cara yang ramah mengkondisikan lingkungan yang akrab, menyenangkan dan nyaman untuk anak, anak akan mengikuti guru atau orang tua yang dia lihat setiap hari. Dibutuhkan latihan, kegiatan tertentu (belajar) secara menyenangkan (enjoy learning) untuk memasukkan nilai-nilai pembentukan karakter, ,seperti setetes air yang terus menerus menempa batu akan berlubang ibarat kata hasilnya akan terlihat nanti.

 

Bagaimana tidak, awal anak mengenal lingkungan sekolah tempat ia bermain bersama teman-teman, belajar mengenal angka, huruf, bersyair, menyanyi, gemar membaca di perpustakaan (mencintai buku), berkebun (bercocok tanam). Minggu pertama masuk sekolah, mereka menangis, takut ditinggal ibu yang mengantar kesekolah, ditunggui di dalam kelas tetapi 2 minggu kemudian mereka berani sekolah sendiri, ditinggal, bahkan mengajak bermain, dan bercakap-cakap dengan teman baru. Menyanyi bersama, rasa percaya diri mulai tumbuh, senang sekolah bahkan tidak mau pulang, karena masih ingin bermain. Hak yang tidak mungkin menjadi mungkin, adalah hal yang sangat luar biasa seolah orang tua pun tidak percaya. Kok bis, bu, bagaimana mungkin bu, di sinilah hebatnya peran guru. Hanya dalam waktu 2 minggu saja, lewat motivasi dan dedikasi guru sudah merubah anak penakut menjadi berani/mempunyai rasa percaya diri. Sedih menjadi senang, menyendiri menjadi banyak teman. Bilamana dengan waktu 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, bahkan 2 tahun usia PAUD/TK. Perubahan luar biasa tentunya lebih mengedepankan pembentukan nilai-nilai karakter (otak kanan) agar anak tumbuh menjadi hebat (berkarakter) menyeimbangkan/otak kiri (kognitif). Lingkungan belajar yang nyaman, kondusif serta menyenangkan.

Banyak pakar berpendapat bahwa lebih dari lima puluh persen perkembangan individu terjadi pada masa usia dini, oleh karena itu janganlah menyia-nyiakan masa peka anak. Gambaran kondisi anak dimasa depan merupakan cerminan perilaku emosional dari apa yang mereka alami, pelajari, tiru, dan di tanamkan sekarang. Kecerdasan emosi menyumbang 80% untuk mencapai kesuksesan, sedangkan 20% ditentukan oleh IQ. Segala simulasi dapat merangsang dimensi perkembangannya, bahkan dapat meningkatkan semua aspek kecerdasan sosial (Nugraha, 2008:510). Sejak dini anak hendaknya dibiasakan untuk dapat mengelola emosinya dalam mencapai keinginannya tidak sekedar cerdas dalam intelektual saja tetapi kecerdasan emosi akan mampu menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah. 

Berbagai upaya untuk membuat anak-anak belajar dengan gembira adalah cerminan kepedulian kita sebagai pendidik dalam mencerdaskan tunas bangsa melalui berbagai aspek antara lain kecerdasan sosial emosionalnya, pembentukan good character di masa depan. Jenis kegiatan yang ingin penulis bagikan pengalaman kreativitas. Latihan relaksasi dan meditasi dengan musik. Kecerdasan musikal berkembang secara neurologis. Sejak dalam kandungan bayi menangkap suara, irama dan getaran, rangsang tersebut mempengaruhi perkembangan otak bayi. Musik menstimulasi seluruh otak karena ketika mendengarkan lagu, otak kiri memproses lirik, sementara otak kanan memproses musiknya (Lewin, et.al.2005) kegiatan relaksasi. Latihan mengenal emosi mereka sendii, aktivitas mediatif musiknya membantu menciptakan ketenangan dan meningkatkan produktivitas pembelajaran pada anak. (*)

*) Juara harapan 3 ”Lomba Menulis Artikel Pendidik Anak Usia Dini” dalam rangka perayaan 10 tahun Sekolah Laboratorium Anak Usia Dini Pelita Nusantara