Menjaga Kelestarian Keragaman Arsitektur Semarang

Tidak mudah memang menjaga kelestarian arsitektur Kota Semarang yang beragam dan multi-etnis. Apalagi kalau hal ini dikaitkan dengan ancaman pemanasan global, yang disertai kenaikan muka air laut yang telah menggenangi kawasan pesisir, khususnya di Kampung Melayu dan Little Netherland.

Dari laman sejarahsemarang.wordpress.com, dibutuhkan upaya serius dari seluruh umat manusia di dunia untuk mengurangi ganasnya banjir air laut adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan (rob). Hemat energi, menanam pohon, dan berperilaku hidup ramah lingkungan harus digalakkan secara serentak sejak dini.

Di sisi lain, pola hidup yang modern juga menjadi ancaman lokal. Banyak masyarakat yang mengubah desain bangunan kunonya itu sesuai selera mereka. Terhadap perilaku semacam ini, arsitek Wijanarka yang seorang penulis buku “Semarang Tempo Dulu” dan Dosen Arsitektur di Universitas Palangkaraya ini menyarankan empat alternatif. Pertama, kawasan bersejarah tersebut dapat dibeli pemerintah sehingga menjadi aset negara.

Kedua, para pemerhati atau pencinta kawasan bersejarah, baik perorangan maupun organisasi yang mampu secara ekonomi membeli kawasan tersebut sehingga memiliki kejelasan kepemilikan.

 

Ketiga, para arsitek yang sedang menangani kawasan bersejarah memakai prinsip desain, aturan perancang, dan proses desain sebagai dasar dalam mendesain karya mereka. Keempat, jika ketiga alternatif tersebut tak dapat dilakukan, maka perlu komunikasi, penyuluhan, atau pelatihan desain pelestarian dan pengembangan kawasan bersejarah.

Dengan demikian, kata Wijanarka, masyarakat yang bermukim di kawasan bersejarah tersebut menyadari kawasan yang mereka huni itu, memiliki makna penting dalam sejarah perkembangan kotanya. 

”Dan ini perlu dilestarikan dan dikembangkan,” tuturnya.

Semarang memang merupakan contoh menarik sebagai daerah pantai yang dirancang pemerintah kolonial Belanda, sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang dibangun di wilayah bagian utara. Sedangkan wilayah selatan yang merupakan daerah berbukit-bukit, dirancang sebagai kawasan hunian dan peristirahatan.

Sayang, keindahan itu harus punya beban kondisi bangunan-bangunannya yang memprihatinkan serta hiruk-pikuk arus lalulintas kendaraan. Terutama pada siang hari, arus kendaraan hampir tak pernah henti sehingga bisa menimbulkan getaran yang mengganggu kestabilan bangunan, di samping sangat menganggu para pejalan kaki.

Seperti halnya di daerah-daerah lain, ancaman paling besar terhadap bangunan-bangunan tua di kota Semarang berasal proses waktu yang memakan kekuatan bangunan itu sendiri. Adanya serangan air hujan hanyalah salah satu sebab, di samping terik matahari yang menjadi faktor penyebab yang bisa mempercepat proses kerapuhan bangunan secara alami.

Apalagi jika pemerintah kota tidak mampu mengendalikan banjir, yang kini sudah menjadi langganan rutin wilayah utara Semarang pada setiap musim hujan. Dengan kurangnya perawatan, seberapa lamakah kekayaan yang mempunyai nilai budaya dan ekonomi itu bisa bertahan?

Dan salah satu untuk menjaga kelestarian bangunan kuno yang mengandung sejarah itu adalah, menambah fungsi bangunan tersebut. Layaknya Hotel Candi Baru Semarang, meski telah diubah menjadi hotel ternama, namun masih tetap mempertahankan keaslian bangunan dan nilai sejarahnya.

TITIS AYU