Krisis Karimunjawa Ancam Kesuksesan Pemilu

JEPARA – Krisis listrik yang terjadi di Karimunjawa secara tidak langsung akan mengancam kesuksesan pelaksanaan pemilu di pulau tersebut. Terlebih warga Karimunjawa juga telah mengeluarkan ancaman untuk memboikot pelaksanaan pemilu.

Ketua KPU Jepara M Haidar Fitri mengakui, persoalan terkait penerangan di Karimunjawa, tak ada korelasi secara langsung terhadap penyelenggaraan pemilu. Meski demikian menurut dia, masalah tersebut tidak boleh disepelekan begitu saja.

”Meski tidak ada korelasi secara langsung, tapi ancaman tersebut merupakan efek dari berbagai persoalan. Termasuk kaitannya dengan pemangkasan penerangan tersebut,” ujar Haidar kepada Koran Muria, kemarin.

Menurut dia, korelasi tidak langsung tersebut, dapat menjadi ancaman yang cukup besar bagi kesuksesan pemilu. Untuk itu, pihaknya berharap Pemkab Jepara dapat menjembatani masalah ini, dan mencarikan solusi yang tepat.

 

”Ini sangat penting, agar tidak mengganggu kondusifitas dan penyelenggaraan pemilu,” terangnya.

Apalagi menurut dia, pemkab telah menyatakan ketersediaannya dalam membantu terselenggaranya pemilu, di Karimunjawa dengan baik. Sehingga, persoalan ini juga seharusnya menjadi perhatian serius dalam membantu menyukseskan pemilu. 

Warga Karimunjawa protes lantaran adanya pemangkasan terhadap subisi solar, untuk penerangan di pulau itu. Akibatnya, aliran listrik dari PLTD yang selama ini hanya 12 jam, kini harus dipangkas lagi menjadi hanya enam jam. Warga mengancam memboikot Pemilu 9 April mendatang, jika hal tersebut terus terjadi.

”Kalau listrik hanya menyala 6 jam saja, bagaimana nasib warga di sini dan nasib pariwisata di Karimunjawa. Kami mendesak pemkab segera turun tangan. Kalau tidak, warga Karimunjawa siap memboikot pemilu. dan tidak bayar pajak,” kata salah seorang warga Karimunjawa, Supriyanto, kemarin.

WAHYU KZ / ALI MUNTOHA