Televisi, Da’i sebagai Tontonan Bukan Tuntunan

Oleh: Sulistyoningsih

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Gema dakwah melebar memasuki ranah media elektronik dan cetak seperti televisi, internet, buku, koran, bulletin, dan lain-lain. Dalam teori ekologi media Marshall McLuhan mengatakan, media elektronik telah mengubah masyarakat secara radikal. Masyarakat sangat bergantung pada teknologi yang menggunakan media dan bahwa ketertiban sosial suatu masyarakat didasarkan pada kemampuannya untuk menghadapi teknologi tersebut. Media membentuk dan mengorganisasikan sebuah budaya. Terlebih media televisi.
Hal tersebut  dikarenakan di era globalisasi, televisi sudah tidak lagi menjadi barang elit kaum berduit. Melainkan, telah menjadi barang umum yang dimiliki masyarakat hingga ke pelosok desa. Sehingga, menggunakan televisi sebagai media berdakwah tepat dijadikan pilihan da’i. Karena selain menghibur, televisi berfungsi sebagai pendidikan, kontrol sosial, dan pemberi informasi kepada masyarakat.
Namun akhir-akhir ini, da’i telah kehilangan ruh dakwahnya. Dalam artian pesan dakwah yang disampaikan kurang mengena di masyarakat. Meskipun dalam kaitan diterima tidaknya suatu dakwah bukan lagi urusan da’i, akan tetapi da’i diharapkan dapat menyampaikan dakwah dengan baik. Dalam AlQuran surat An-Nahl 125 ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Kurang mengenanya dakwah tersebut dikarenakan beberapa problem, diantaranya yaitu  pandangan masyarakat terhadap dakwah, da’i dan pemilik media.
Pandangan masyarakat saat ini terhadap dakwah hanya sebatas hiburan. Hal tersebut dapat dilihat banyaknya masyarakat yang menyukai kajian Islam di televisi yang berbau humor. Maka tidak heran ketika da’i muda, menarik, lucu, dan mengundang tawa digemari masyarakat, meskipun secara keilmuan minim.

Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menyampaikan apa yang diketahuinya meskipun satu ayat. Perintah tersebut menjelaskan bahwa dakwah dapat dilakukuan oleh siapapun tidak peduli keilmuan da’i-nya minim atau tidak. ”undhur ma qol wala tandhur man qol” lihatlah apa yang dikatakan bukan  melihat siapa yang mengatakan. Tetapi bagaimana jika yang  keilmuannya minim tidak dioptimalkan dengan baik, melainkan lebih banyak ditambahi dengan banyolan dan lawakan yang tidak bermanfaat?
Padahal jelas dalam hadist Rasulullah  SAW. Melarang banyak tertawa karena dapat mematikan hati. Bahkan Aisyah isteri Rasulullah SAW. Berkata ”Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum”. (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497).
Problem lain yang menyebabkan pesan dakwah kurang mengena di hati masyarakat yaitu dari da’i. Da’i terutama da’i televisi hadir dengan berbagai macam gaya yang berbeda guna menarik hati masyarakat. Syarwani (wawancara 04/12/2013) mengatakan ”lebih banyak tontonan daripada tuntunan”. Artinya  banyak sekali dakwah yang sengaja dikemas hiburan. Ada yang melawak menggunakan wayang, ada yang bersorban, akan tetapi gerak geriknya lebih cenderung melawak. Hal tersebut tidak masalah. Wayang, media yang pernah digunakan Walisongo (Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, dan lain-lain) berdakwah pada masyarakat pulau Jawa yang sebagian besar beragama Hindu dan memiliki kegemaran menonton wayang.
Sebenarnya sah- sah saja da’i bergaya humor dengan harapan pesan yang disampaikan tidak menjenuhkan dan mendapat respon balik (feed back) dari pendengar. Asal humor yang dilakukan tidak berlebihan dan sesuai dengan Alquran dan Al-Hadist. Karena bukan tidak mungkin ketika da’i hanya menonjolkan gaya melawaknya saja, masyarakat akan berpikir apatis (tidak peduli) dan menyamakan da’i dengan pelawak. Jika demikian yang diterima hanya kelucuan saja (tontonan bukan tuntunan).
Problem selanjutnya, yaitu dari pemilik media. Pemilik media cenderung memilih da’i yang memiliki jiwa melawak. Karena dengan menampilkan da’i yang dapat melawak, acara dalam medianya akan disukai masyarakat. Dalam hal ini peran bisnis berlaku ”dakwah dinominalkan dan dikomersialisasikan” bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah yakni berdakwah dengan sabar dan ikhlas karena Allah SWT. Contoh real yaitu da’i yang identik dengan jargon ”jama’ah oh jama’ah” dihadirkan dalam acara guyon di salah satu stasiun televisi nasional. Apa yang didapat selain tertawa yang kemudian membuat penonton menangis di penghujung acaranya? Bagaimana dengan peran kehadiran da’i dalam majlis laki-laki dan perempuan membaur tanpa sekat? Terlebih, mengapa seolah-olah da’i  membiarkan aksi laki-laki berkostum perempuan dalam acara tersebut?
Menanggapi hal tersebut ada beberapa solusi bagi da’i. Di antaranya; pertama, da’i  harus menjaga muru’ah-nya (kehormatan diri). Kedua, da’i harus memiliki jiwa ikhlas. Dalam hadist shohih ”tiga orang yang pertama menjadi bahan bakar neraka adalah: orang berilmu, orang yang mati syahid, dan orang yang dermawan.  Orang-orang tersebut masuk neraka sebab beramal bukan karena Allah. Orang berilmu belajar dan mengajar agar disebut berilmu, orang mati syahid berjuang agar terlihat pemberani, dan orang yang gemar membantu orang lain agar disebut dermawan. Ketiga, harus memahami diri sendiri dalam artian ia sebagai pelaku yang kehidupannya diharapkan menjadi teladan yang baik bagi umat bukan sebaliknya.(*)