Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri lagi-lagi terjadi di Grobogan. Seorang nenek berusia 75 tahun bernama Sati, warga Dusun Ande-ande, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri, Minggu (4/6/2017).

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui tengah hari sekitar pukul 12.00 WIB. Orang yang kali pertama mengetahui kejadian itu adalah Nuryati (39), anak korban yang saat itu baru pulang dari sawah.

Saat masuk rumah Nuryati sontak kaget dan langsung berteriak histeris. Sebab, ia mendapati tubuh ibunya sudah tergantung di bawah pasak bambu yang biasa dipakai tempat jemuran dengan leher terlilit tambang plastik.

Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut berhamburan ke lokasi kejadian. Beberapa orang di antaranya kemudian mengecek kondisi korban yang diketahui sudah meninggal dunia.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana ketika dimintai komentarnya menyatakan benar telah terjadi peristiwa itu. Dari olah TKP dan pemeriksaan yang dilakukan, korban dinyatakan murni bunuh diri.

“Tidak ada tanda kekerasan. Korban gantung diri pakai tali tambang. Untuk motif bunuh diri diduga faktor sakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh,” jelasnya pada wartawan, Senin (5/6/2017).

Editor : Akrom Hazami

Sistem Terintegrasi untuk Kudus Smart City

Wahyu Dwi Pranata
CEO Kudus Smart City Open Labs

PERMASALAHAN keakuratan data untuk mengambil keputusan merupakan pijakan awal sebagai parameter adil atau tidaknya sebuah kebijakan, karena data yang akurat akan mempengaruhi ketepatan dari keputusan yang diambil. Dengan tepatnya keputusan tersebut, menjadikan tidak ada pihak yang dirugikan. Lalu pertanyaannya ialah bagaimana menyajikan data yang akurat untuk pengambilan keputusan ? jawabannya adalah harus tersedia sebuah data center yang terintegrasi dari berbagai sektor di E-Government pemerintahan, data tertentu seharusnya dipublikasikan kepada khalayak. Data center tersebut yang bisa dijadikan bahan pemimpin dalam “ber-ijtihad” untuk kemaslahatan umat. Dalam hal ini mengambil keputusan yang lebih baik bagi pemerintah.

Tentunya dalam membangun pusat data (Data Center) membutuhkan sebuah perumusan yang matang. Harus ada pakar teknologi serta pakar di masing-masing sektor pemerintahan. Lalu apa untungnya data center ? sebagai contohnya seperti ini : Facebook terbentuk dari jutaan manusia yang telah terdaftar, sedikitnya 1,4 Miliar orang pada kuartal I 2015 meningkat 13% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia hanya 256 juta jiwa. Ini berarti perusahaan Facebook mengelola lebih banyak data kependudukan dari pada Indonesia. Banyaknya data yang terkumpul itulah yang kemudian dikelola dan menjadi bahan pengembangan perusahaan.

Jika kita tahu, di Facebook kita bisa mengambil keputusan berdasarkan data yang mereka miliki. Misalnya kita ingin memperkenalkan suatu produk untuk kawasan tertentu (misal : Indonesia) maka Facebook akan menampilkan iklan tersebut hanya pada akun yang bermukim atau berasal dari wilayah yang dimaksud. Jika ada perusahaan ingin mengiklankan pembalut maka Facebook bisa menyediakan layanan bagi perusahaan tersebut untuk menampilkan iklan hanya untuk perempuan dengan rentang umur 16-46 tahun (perkiraan masa menstruasi pada perempuan).

Data yang dimiliki Facebook juga tidak terbatas untuk kepentingan bisnis semata. Dalam bidang budaya Facebook bisa membaca pola komunikasi suatu wilayah melalui status, foto atau video yang dibagikan. Facebook bisa mengatakan bahwa masyarakat generasi muda Indonesia gemar melakukan pembicaraan secara aktif dimedia sosial. Dan kini Facebook telah memanfaatkan datanya untuk membuat sebuah peta (3 W) kepadatan penduduk untuk mengetahui seseorang sedang di mana dan melakukan apa dengan kerahasiaan data pribadi tetap terjaga.

Menurut Keera Morrish yang bekerja di Facebook sebagai Digital Humanitarian, data tersebut pernah digunakan untuk membantu gempa Ekuador. Dan tentunya data yang mereka miliki digunakan pula untuk mengambil keputusan guna mengembangkan Perusahaan Facebook.

Masih kurang jelas gambaran manfaat data center ? pada intinya dengan kepemilikan sebuah data center, Kita bisa membuat keputusan lebih akurat serta efisien dan efektif. Karena data center memiliki ciri khas sebagai data yang terpusat dan terintegrasi. Data tersebut menjadi data handal karena minim duplikasi.

Konsep Data Center

Untuk membangun sebuah data center dengan kapasitas data yang besar, seseorang harus memperhatikan bagaimana topologi (struktur) perancangan hardware yang akan dibangun. Topologi tersebut akan berpengaruh pada keamanan dan kecepatan akses terhadap data. Ada banyak topologi yang bisa digunakan, tentunya disesuaikan dengan struktur data center yang akan dibangun.

Data center yang dibangun oleh sebuah kawasan (daerah) bisa bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, politik, ekonomi, pengembangan wisata, atau perihal lainnya. Data center tersebut bisa terdiri dari data kependudukan, data geografis (peta), data iklim, data kebencanaan, data perdagangan dan masih banyak data lain yang dapat disinkronisasikan.

Namun, dalam pemerintahan, data yang paling sering digunakaan adalah data kependudukan. Data ini yang menjadi penting untuk disatukan dengan yang lain agar tidak ada ketimpangan data (redudancy). Sebagai contohnya untuk menghitung jumlah pemilih (DPT) dalam Pemilihan Umum, kita sering kali mempertanyakan keakuratan data yang disajikan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Banyak orang-orang teriak bahwa datanya tidak sesuai dengan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS). Data warga miskin yang digunakan untuk penyaluran kartu sakti, bantuan sosial, program kesehatan dan lain sebagainya. Berlatar pada pentingnya keakuratan data kependudukan semacam itulah yang menjadikan alasan bahwa hadirnya data center bisa menjadi solusi.

Data Center, Kota Cerdas (Smart City) dan Internet of Things (IoT)

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mempercepat pembangunan daerah merupakan salah satu ciri sebuah kota bisa dikatakan cerdas. Kota cerdas (Smart City) memiliki beberapa komponen yang di antaranya : smart people, smart environment, smart mobility, smart economy, smart goverment dan smart living. Teknologi menjadi penopang (back bone) utama dalam akselerasi pembangunan. Teknologi masuk dalam ranah pendidikan sebagai sarana memperluas ruang belajar, menawarkan konsep pendidikan tanpa batas ruang dan waktu yang digemari, juga melalui inovasi media pembelajaran berbasis digital.

Teknologi masuk di ruang ekonomi menjadikan berbelanja hanya dengan jari. Teknologi kawin dengan kebudayan seperti Jepang yang maju, namun tetap menghargai nilai-nilai luhur nenek moyangnya. Teknologi hadir di ruang keluarga seperti perangkat google home yang bisa menyalakan musik, dan mematikan lampu dengan perintah suara. Open data oleh pemerintah melalui Application Programming Interface (API) yang bisa dimanfaatkan oleh pihak lain.

Sekarang bisa kita tengok sebuah negara tropis dengan luas wilayah yang tak seberapa, Singapura berhasil mengembangkan desain kota, salah satun lokasinya Garden by the Bay yang menyejukkan mata serta hati.

Namun apa daya, panggang jauh dari api, selama ini konsep yang telah ada tentang Smart City belum bisa diwujudkan secara utuh, terkhusus pada integrated system for all purpose pada sebuah daerah. Karena menurut pengamatan penulis selama ini masing-masing Satuan Kerja Peragkat Daerah (SKPD), dan dinas masih belum maksimal dalam hal koordinasi untuk membentuk satu kesepahaman pembangunan. seharusnya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bapedda) berupaya lebih keras agar berhasil menjembatani pihak-pihak tersebut.

Contohnya untuk sistem peringatan dini bencana banjir, Pemerintah Kudus bisa membuat sistem terintegrasi dari alat detektor banjir yang ada di sekitar sungai dan terkoneksi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), rumah sakit, kepolisian, dan alarm yang ada bagi masyarakat setempat. Sistem tersebut bisa menyajikan data berupa ketinggian air secara akurat, luasan lokasi yang terdampak banjir dan jumlah korban banjir  secara berkala. sistem ini dimaksudkan agar kejadian bencana bisa dicegah atau ditanggulangi secara cepat melibatkan pihak-pihak yang terkoneksi.

 

Desain Sistem

Pembuatan sistem terintegrasi dalam skala besar untuk pemerintahan alangkah baiknya menggunakan desain Top to Bottom atau Top-Down (desain dari tingkatan atas ke bawah), di mana analisa kebutuhan secara makro dilakukan terlebih dahulu, kemudian dibreak down menjadi analisa kecil dimasing-masing divisi. desain sistem dengan cara ini menjadi lebih efektif dan efisien untuk proyek pembangunan infrastruktur teknologi dalam skala besar. namun sebaliknya, proses desain Bottom to Top(Bottom-Up) akan menghabiskan sumber daya jauh lebih banyak karena dalam kenyataanya untuk mengurus perubahan topologi dan sinkronisasi data dari masing-masing divisi membutuhkan waktu yang lebih panjang. Ini yang membuat desain dan implementasi sistem Bottom-Up menjadi tidak cocok untuk projek skala besar atau lebih baik kita menggabungkan keduanya.

 

Mendorong Peningkatan Peran serta Masyarakat

Nanti seiring munculnya beragam aplikasi (terintegrasi) untuk mendukung Smart City dalam suatu pemerintahan. Pemerintah harus mulai memikirkan juga bagaimana masyarakat bisa terlibat aktif dalam proses pembangunan. Dalam mensukseskan pembangunan berbasis Smart City, pemerintah perlu mengajak masyarakat untuk berperan aktif. Dalam hal ini masyarakat memiliki peran penting terkait smart people, yang merupakan salah satu dari ke enam element Smart City.

Peran serta masyarakat ini bisa dibentuk melalui karakter peduli, keepo (memiliki rasa ingin tahu), dan tidak gagap teknologi. Pembentukan karakter tersebut alangkah baiknya dimulai secepat mungkin, yang pertama tentu saja melalui keluarga. Keluarga adalah tempat karakter bisa terbentuk. Pemerintah bisa memperluas dan memperbanyak access point bersama sampai ke desa-desa atau wilayah terpencil (internet masuk desa). Karena selama ini penulis amati letak dari access point bersama (sebut saja wifi id) malah diletakkan di tempat strategis perkotaan. Cara memperluas jaringan ini seharusnya diinisiasi oleh pemerintah, misalnya pemerintah bekerja sama dengan provider tertentu dan mempersiapkan anggaran.

Alangkah baiknya kini paradigma pembangunan kita harus melihat bahwa desa merupakan masa depan dari kehidupan manusia. Menurut sebuah studi menyatakan 82,37% manusia akan hidup di kota pada tahun 2045. Teori tersebut tidak menyebutkan bahwa ramalan itu bukan efek dari urbanisasi (perpindahan orang dari desa ke kota), melainkan dari pertumbuhan jumlah penduduk serta akibat dari pembangunan desa menjadi kota.

Jika kita bisa mengantisipasi data statistik di atas maka desa bisa menjadi lebih siap dalam menghadapi globalisasi. Dengan adanya access point bersama ditingkatan masyarakat desa, ini bisa membentuk keluarga cerdas memanfatkan internet maka ke depannya akan terbentuk Smart Community pada tataran desa.

Contohnya desa-desa di Kudus penghasil tebu, jahe merah, ketela, sayuran, jeruk pamelo, dan hasil pertanian lainnya bisa dengan mudah mencari informasi melalui internet tentang pemeliharaan, cara memanen, dan harga jual dari komoditi tersebut. Ini juga bisa menghilangkan adanya tengkulak-tengkulak nakal di bidang komoditi pertanian.

Selain itu pemerintah juga bisa menyampaikan informasi secara cepat ke desa-desa melalui sambungan internet. Misalnya, pemerintah bisa menyajikan harga kebutuhan pokok di setiap pasar yang ada di Kudus, ini bermanfaat sekali bagi petani di desa yang akan menjual hasil pertaniannya ke pasar. Mereka bisa memilih tempat untuk menjual dagangannya berdasarkan informasi harga jual tertinggi di pasar.

Kata-kata penutup : pada mulanya ekplorasi teknologi dilakukan untuk kebaikan umat manusia, tetapi entah kenapa kejahatan bisa merusaknya.

(Wahyu Dwi Pranata, Tinggal di Kudus. Artikel ini dimuat di MuriaNewsCom pada Senin (5/6/2017)

Buka Puasa Bareng, Sri Hartini dan Abdul Wachid Bagi-bagi Speaker Masjid

Anggota DPR RI Abdul Wachid dan Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini memberikan bantuan alat pengeras suara kepada pengurus masjid dan musala di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Anggota DPR RI Abdul Wachid dan Wakil Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartini, Sabtu (3/6/2017) petang menggelar buka puasa bersama kader Gerindra dan warga Kudus.

Kegiatan buka puasa bersama dilakukan di kediaman Sri Hartini, di Jalan Suryo Kusumo VI, Nomor 99, Desa Jepang, Mejobo, Kudus. Ratusan orang hadir dalam kegiatan yang digelar di hari kedelapan Ramadan tersebut.

Abdul Wachid dan Sri Hartini keduanya menjadi jago Partai Gerindra dalam Pilkada serentak 2018 mendatang. Abdul Wachid dijagokan sebagai bakal calon gubernur Jawa Tengah, sementara Sri Hartini akan diusung sebagai bakal calon bupati Kudus.

Kegiatan ini dihadiri 250 orang, yang terdiri dari kader Partai Gerindra, masyarakat dan sejumlah tamu undangan lainnya.

“Buka puasa ini kami isi dengan dialog untuk menguatkan jalinan silaturahmi antarkader dan juga masyarakat,” kata Wachid yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jateng tersebut.

Dalam dialog tersebut, banyak aspirasi yang disampaikan masyarakat. Mulai dari kondisi saat ini di Kudus dan Jawa Tengah, harapan ke depan dan berbagai program dan usulan yang disampaikan kepada dua legislator tersebut.

Sementara Sri Hartini menyatakan silaturahmi adalah hal yang utama. Dari silaturahmi menurutnya, berbagai masalah ataupun persoalan bisa dicarikan solusi dan dipecahkan secara bersama.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wachid dan Sri Hartini juga memberikan bantuan seperangkat alat pengeras suara untuk masjid dan musala di Kabupaten Kudus. Pemberian bantuan disampaikan langsung kepada para pengurus masjid dan musala.

Editor : Ali Muntoha

Menelisik Jejak Sunan Ngudung, Ayah Sunan Kudus, di Desa Cingkrong Grobogan

Inilah petilasan Sunan Ngudung yang berada di Dusun Widuri, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perkembangan agama Islam di wilayah Purwodadi ternyata juga ada andil dari Sunan Ngudung. Hal ini setidaknya bisa dilihat dengan adanya sebuah petilasan dari ayah kandung Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus yang berada di Dusun Widuri, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan.

Petilasan Sunan Ngudung di Desa Cingkrong berada di depan rumah warga bernama Mbah Yahyo yang sekaligus merupakan juru kunci. Di pekarangan depan rumahnya sebelah kiri, terdapat bangunan kecil seperti pos kampling berukuran 2,5 x 2,5 meter. Di sinilah letak petilasan Sunan Ngudung.

Saat pintu bangunan dari bahan tembok ini dibuka, tampak didalamnya ada dua patok atau nisan dari kayu. Sepintas, mirip patok yang ada di pemakaman. Di atas lantai digelar karpet warna hijau.

“Di sinilah petilasan dari Sunan Ngudung. Meski ada patok tetapi ini bukan makam beliau. Patok ini hanya sebagai tanda supaya petilasan mudah dikenali saja,” kata Mbah Yahyo.

Menurutnya, dari cerita yang didengar, nama Sunan Ngudung adalah putra Sunan Gresik yang bernama asli Raden Usman Haji. Sunan Ngudung diangkat sebagai imam masjid Demak sekitar tahun1520. Dalam kurun waktu itu, Sunan Ngudung juga ikut melancarkan dakwah Islam di daerah sekitar Demak.

Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Raden Amir Haji atau Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus. 

Yahyo tidak tahu persis apa yang ada di bawah patok petilasan tersebut. Ada beberapa versi cerita dari leluhurnya. Ada yang menyatakan jika di dalam tanah di bawah patok terdapat barang Sunan Ngudung yang tertinggal.

“Katanya ada pusaka atau jubahnya yang ketinggalan. Ada yang menyatakan jika di bawah patok, dulunya merupakan tanah yang sempat kena ceceran darah Sunan Ngudung ketika terluka saat berhadapan dengan musuh dari Majapahit. Terlepas apa barangnya,  yang pasti Sunan Ngudung memang pernah sampai ke kampung ini,” jelas pria berusia 60 tahun tersebut.

Petilasan tersebut sudah ada ratusan tahun lalu. Dulunya hanya dikasih pagar keliling dari bambu. Baru pada beberapa tahun lalu ditutup bangunan dari tembok bata.

“Selama ini, sudah banyak orang yang ziarah kesini. Ada yang dari Jawa Timur, Solo, Semarang dan Jogjakarta. Paling ramai kalai malam Jumat Kliwon bulan Muharam atau Suro,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Mau Buka Bersama dengan Suasana Beda di Grobogan? Coba ke Tempat Ini 

Warga menikmati buka puasa bersama di Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyak tempat yang bisa dipilih buat melangsungkan acara buka bersama. Biasanya, pilihan pertama adalah rumah makan. Namun, ada juga yang lebih suka berbuka puasa di masjid. Salah satunya di Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi.

Sejak hari pertama puasa, banyak orang yang berada di situ menunggu waktu magrib tiba. Kebetulan, pihak masjid menyediakan takjil gratis sepanjang bulan puasa ini. “Sejak hari pertama sampai sekarang banyak yang mengirimkan takjil untuk jamaah sini. Selain dari jamaah, takjil ini juga datang dari warga sekitar masjid,” kata Fakhrurozi, salah satu pengurus masjid tersebut.

Meski ada takjil gratis, namun banyak pula warga yang datang sambil membawa menu berbuka sendiri. Baik dibawa dari rumah maupun beli dari pinggir jalan. “Buka bersama di halaman masjid ini nuansanya beda kalau dibandingkan di rumah makan. Selama puasa ini, saya sudah tiga kali buka puasa di sini,” kata Mintono, warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi masjid tersebut.

Selain suasana, berbuka di masjid dirasa punya kelebihan sendiri. Yakni, tidak perlu bingung kalau mau menunaikan salat magrib. 

Editor : Akrom Hazami

 

Razia Petasan Digencarkan di Grobogan 

Sejumlah anggota Polres Grobogan melakukan razia petasan di beberapa lokasi, Sabtu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Mendekati pertengahan bulan suci Ramadan, jajaran Polres Grobogan meningkatkan kegiatan razia. Kali ini, sasarannya adalah mencegah adanya penjualan petasan atau mercon. Meski demikian, selama razia yang dilangsungkan beberapa hari lalu, petugas belum menemukan adanya peredaran mercon.

“Dari kegiatan yang kita lakukan hasilnya memang masih nihil. Meski begitu, kami akan terus melakukan razia supaya wilayah Grobogan aman dari peredaran petasan,” kata Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Sabtu (3/5/2017).

Menurutnya, razia selanjutnya tidak hanya dilakukan di kawasan kota saja. Tetapi, jajaran polsek juga akan menggelar razia di wilayahnya masing-masing.

”Kalau hanya menjual kembang api tidak masalah. Yang kita sasara adalah penjual petasan,” jelasnya.

‎Kasat Sabhara AKP Lamsir mengatakan, selain razia, pihaknya juga mengimbau kepada warga agar tidak menjual petasan. Sebab, pelakunya bisa dijerat UU Darurat No 12 tahun 1951 tentang menyimpan bahan peledak dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun.

Selain warga, para penjual kembang api juga diimbau tidak menyediakan petasan. Hal itu dilakukan karena di beberapa daerah ada modus memasarkan petasan dengan cara menjual kembang api.

“Modus operasinya, biasanya yang dipajang cuma kembang api saja, yang kira-kira tidak bahaya. Namun saat pembelinya meminta petasan, penjualnya baru mengeluarkan barangnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemenang Lelang Rumah Tak Menyangka Ada Praktik Pembuatan Upal di Rumah Sumani

Rumah Sumani yang kini jatuh ke tangan Japari lantaran ada tunggakan hutang di bank, yang kemudian dilelang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Japari, pemenang lelang rumah dari salah satu bank, yang merupakan milik Sumani Khakim, warga Desa Sluke RT 1 RW 3 Kecamatan Sluke, Rembang, tak menyangka jika rumah yang dimenangkannya dalam lelang tersebut ada praktik pembuatan uang palsu.

Padahal, Japri sendiri merupakan tetangga dekat dari Sumani. Japri tak melihat adanya hal yang mencurigakan dengan aktivitas di rumah Sumani.

“Saya tak menyangka jika Sumani dapat membuat bunker semacam itu. Apalagi, ruang bawah tanah itu dijadikan tempat pembuatan uang palsu,” ujarnya.

Ia katakan, ia berhasil memenangkan lelang rumah dan tanah Sumani pada tahun 2010 lalu, seharga Rp 330 juta. Hal itu setelah Sumani terbelit hutang di bank, dan tak sanggup melunasinya, sehingga pihak bank melelangnya.

“Sebelum dieksekusi oleh pihak pengadilan, sebenarnya saya sudah ingin menyelesaikan baik-baik dengan Pak Sumani. Namun demikian, ketika saya datang ke rumahnya, Pak Sumani menyampaikan jika dia tidak ada urusan dengan saya, tapi dengan pihak bank,” imbuhnya.

Selanjutnya, dirinya mengajukan proses eksekusi ke Pengadilan Negeri (PN) Rembang. Namun, Sumani melakukan perlawanan dengan mengajukan banding, sampai tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA) yang kemudian akhirnya diputus kalah.

Setelah itu, tepatnya pada 24 Mei  2017, pihak PN Rembang melakukan eksekusi rumah. Dan dari proses itulah, ternyata ditemukan adanya upal serta peralatannya di di bunker tersebut.

Editor : Kholistiono 

Begal yang Tewas Terjatuh ke Dalam Jurang Ternyata Baru 3 Bulan Keluar dari Penjara

Agus yang diduga akan melakukan pembegalan tewas terjatuh di dalam jurang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Agus Heri Setiawan (37) alias jabrik, yang diduga akan melakukan pembegalan terhadap pengemudi truk, ditemukan tewas di jurang saat berusaha melarikan diri dari kejaran polisi. Agus ditemukan di jurang, di kawasan Desa Langgar, Kecamatan Sluke, Rembang pada Jumat (2/6/2017).

Agus yang merupakan warga Dukuh Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem ini, ternyata baru sekitar tiga bulan keluar dari penjara karena kasus penganiayaan. “Dia barusan keluar dari penjara lantaran kasus penganiayaan terhadap warga Selopuro, Lasem, Maret lalu,” ujar Kasatreskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka.

Sementara itu, satu rekan Agus yang juga ikut dalam dugaan tindakan pembegalan, yakni Rohmad, juga pernah merasakan penjara beberapa waktu lalu. Rohmat yang merupakan warga Desa Soditan, Kecamatan Lasem, tersangkut kasus pencurian.

Untuk diketahui, peristiwa upaya pembegalan terjadi ketika truk bernomor BD 8653 KE yang dikemudikan oleh Suparman warga Kelurahan Air Bang, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, dengan tujuan Bengkulu-Surabaya, melintas di pertigaan lampu merah Lasem.

Ketika di tempat ini pada Jumat (2/5/2017), sekitar pukul 21.15 WIB, truk bermuatan perabotan rumah tangga tersebut tiba-tiba dipepet dua orang yang mengendarai sepeda motor jenis RX King bernomor polisi K 4555 KE.

Pengendara sepeda motor tersebut meminta agar truk yang dikendarai Suparman itu berhenti. Namun oleh Suparman, tak mau menghentikan kendaraannya, karena curiga pengendara tersebut akan melakukan tindakan kejahatan.

“Mereka itu sampai empat kali menghentikan saya, tapi saya tak mau berhenti. Karena saya curiga mereka ini akan bertindak jahat. Sebab, di bagian belakang pinggang mereka saya melihat sesuatu yang menonjol seperti celurit,” ujar Suparman.

Meski terus dipepet, namun sopir tersebut terus melajukan kendaraannya, hingga akhirnya sampai di Mapolsek Sluke. Suparman akhirnya turun dan melaporkan kejadian yang dialaminya kepada polisi yang berjaga.

Mendapatkan laporan tersebut, polisi jaga yakni Bripka Didik dan Bripka Dodik lalu melakukan pengejaran terhadap pelaku dengan menggunakan mobil police backbone dengan ditemani sopir truk untuk menunjukkan arah pelaku.

Dalam pengejaran tersebut, yang awalnya pelaku kabur ke arah timur, tiba-tiba berbalik arah, dan polisi dan pelaku berpasasan di wilayah Jati Sari. Melihat pelaku, kemudian polisi langsung menggejar polisi

“Ketika berpasasan di Jatisari, kita sempat memberhentikannya sebanyak dua kali. Yakni di depan SD dan BRI. Tapi, pelaku tak menghiraukan kami, dan justru terus melajukan kendaraannya dengan kencang,” kata Bripka Didik.

Tak mau buruannya hilang, polisi juga tancap gas, dan sempat menghadangnya di pertigaan Sluke, yakni arah Desa Langgar. Polisi pun meminta keduanya berhenti, namun tetap tak dihiraukan pelaku. Hingga akhirnya, polisi dapat menghentikan keduanya di area Gapura Desa Langgar. Kedua pelaku pun turun dari kendaraan.

“Satu dari pelaku yakni Agus, turun dan tiba-tiba menodongkan celurit kepada kami, dan berupaya mendekati kami untuk membacok. Tapi kami tak gentar. Saya pun kemudian memberikan tembakan peringatan ke atas,” imbuh Bripka Didik.

Saat ada tembakan peringatan itu, Agus langsung melarikan diri sambil melemparkan senjatanya. Ketika berlari itu, tak disangka oleh Agus, ternyata di depanny ada jurang, sehingga terjatuh ke jurang dan akhirnya meninggal.

Sementara itu, pelaku lainnya atas nama Rahmad dapat ditangkap polisi dengan tanpa perlawanan. Di sisi lain, jasad Agus yang terjatuh ke jurang dapat ditemukan polisi pada Sabtu (3/6/2017) dini hari.

Editor : Kholistiono

PSIR Kembali Gelar Latihan Pekan Depan

Pemain PSIR saat mengikuti latihan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Pada bulan Ramadan ini, pemain PSIR Rembang diliburkan untuk latihan selama sepekan. Rencananya, tim akan kembali menggelar latihan pada pekan depan, sebelum melakoni laga lanjutan Liga 2.

Pelatih fisik PSIR Devid Prisma Nugraha mengatakan, latihan nantinya akan ditekankan pada pemantapan mental tim. Seperti halnya kegesitan saat membawa bola, memfokuskan pada konsentrasi pemain supaya tak salah umpan dan lainnya.

Dia menilai, selama ini, saat menjamu lawan, rata-rata para pemain masih gagal fokus atau salah umpan. Sehingga, latihan kedepan mental para pemain akan ditata dengan matang.

“Kita akui memang salah umpan pasti terjadi di saat menjamu para lawan. Tak hanya itu, salah umpan itu tidak terlepas dari mental para pemain yang masih down, bermain secara terburu-buru, dan tidak bermain secara rileks,” paparnya.

Dengan adanya latihan selama bulan Ramadan di saat sore hari ini, pihaknya berharap mental anak asuhnya bisa terjaga. Baik ketika melakoni laga di kandang maupun saat tandang.

“Mudah-mudahan, nantinya latihan ini bisa memantapkan mental pemain. Selain itu, yang paling inti yakni bagaimana caranya para pemain itu bisa memainkan permainan dengan rileks dan terbuka. Sehingga mereka bisa menikmati permainan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

PDAM Jepara Bertekad Perluas Layanan

 

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jepara bertekad memperluas jangkauan layanan kepada warga. Hingga kini, persebaran layanan baru mencapai 20 persen, dari total penduduk kabupaten tersebut yang berjumlah 1,2 juta. 

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengatakan, satu di antara realisasi yang akan dicapai adalah pembuatan embung di Kelurahan Bapangan, Kecamatan Jepara. 

“Di samping sebagai sumber baku air PDAM, embung tersebut juga nantinya sebagai lahan area publik,” katanya.

Terkait layanan, jumlah terbesar dari pengguna layanan perusda tersebut berasal dari pengguna rumah tangga. Ia menyebut, angka 20 persen tersebut sudah lebih baik dari daerah lain yang baru mencapai belasan sambungan. 

Oleh karenanya, ia juga tak merasa anti jika ada layanan air lain seperti Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakt (Pamsimas) yang merambah di daerah Jepara. Hal itu karena program tersebut ikut membantu warga dalam memenuhi kebutuhan pokok yakni penyediaan air.

“Justru program itu sangat membantu penyediaan air bersih bagi warga, salah jika masih menganggap Pamsimas adalah saingan. Toh pangsa pasar pengguna PDAM masih banyak,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Ada Perbaikan Kabel Jaringan, Lampu Bangjo di Dalam Kota Purwodadi Dimatikan

Arus kendaraan dari empat arah berjalan bersamaan di perempatan Kelenteng Purwodadi karena lampu traffic mati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintas di perempatan Kelenteng Purwodadi sempat mengeluhkan matinya lampu lalu lintas (bangjo) di tempat tersebut. Keluhan itu disampaikan lantaran lampu bangjo sudah mati selama beberapa hari.

“Lampu bangjo kalau tidak salah sudah dua hari gak nyala,” kata Guntoro, warga sekitar.

Matinya lampu bangjo menyebabkan arus lalu lintas cukup terganggu. Terutama, saat pagi hari karena banyak orang kerja dan anak sekolah. Selain itu, matinya bangjo juga menjadikan rawan kecelakaan pada malam hari.

“Lokasi bangjo ini ada di tengah kota. Jadi arus lalu lintasnya memang cukup padat,” cetus Endang, warga lainnya.

Sementara itu, pihak Dinas Perhubungan Grobogan menegaskan, lampu bangjo di perempatan Kelenteng memang sengaja dimatikan sejak beberapa hari lalu. Hal itu dilakukan seiring adanya perbaikan kabel jaringan lampu padam yang ada di bawah tanah.

“Kita lagi perbaiki jaringan kabelnya. Dalam masa perbaikan terpaksa kita padamkam lampu traffic-nya untuk menghindari korsleting listrik,” ujar Kasi Parkir Dinas Perhubungan Grobogan Susanto Adi Wibowo yang juga bertindak selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Rambu, Sabtu (3/6/2017).

Menurutnya, pemadaman lampu bangjo selama proses perbaikan jaringan kabel itu sudah dikoordinasikan dengan pihak Satlantas Polres Grobogan. Jika memang terjadi kepadatan arus nanti akan ada petugas yang mengatur kendaraan di lokasi tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Gencarkan Razia Kembang Api Bertuliskan Ayat Alquran di Pati

Polisi melakukan razia kembang api Mega Jumbo di Jalan MH Thamrin Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petugas kepolisian menggencarkan razia kembang api berlafadz Alquran di berbagai toko di Kabupaten Pati. Hal itu untuk menertibkan peredaran kembang api yang memakai kertas berlafadz Alquran.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, razia kembang api berlafadz Alquran dilakukan atas perintah Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan terkait dengan maraknya peredaran kembang api jenis air mancur bermerek Mega Jumbo.

“Ini menindaklanjuti dari kasus ditemukannya lafadz ayat-ayat suci Alquran pada kembang api bermerek Mega Jumbo di Semarang. Ini jelas bertentangan dengan agama dan menyinggung suku agama ras dan antargolongan (SARA),” ujar Kompol Sundoyo, Sabtu (3/6/2017).

Sejauh ini, polisi menemukan sejumlah kembang api merek Mega Jumbo hasil dari razia. Salah satunya di Toko Maria Jalan MH Thamrin, Pati. Dalam razia tersebut, polisi menemukan dua buah kembang api bermerek Mega Jumbo.

Dua buah kembang api tersebut disita untuk dijadikan barang bukti sebagai antisipasi terjadinya isu SARA. Sementara razia di berbagai wilayah kecamatan belum ditemukan kembang api bermerek Mega Jumbo.

Hingga Lebaran nanti, polisi akan terus melakukan razia kembang api merek Mega Jumbo dan berlafadz Alquran. Dia berharap tidak ada penjual yang memperdagangkan kembang api tersebut.

“Kami imbau kepada pedagang di Pati untuk tidak menjual kembang api atau petasan bermerek Mega Jumbo, termasuk kembang api dengan bahan dasar kertas bertuliskan Alquran. Razia akan terus kami tingkatkan dalam beberapa pekan ke depan,” pungkas Kompol Sundoyo.

Editor : Kholistiono

Warga Pladen Kudus masih Was-was Datangnya Banjir Susulan

Warga melintas di pinggiran sungai di Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah warga Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mengaku masih trauma dengan banjir  pada Jumat (2/6/2017) kemarin. Warga masih was-was kalau banjir kembali datang dalam waktu dekat ini.

Kusnandar (47) warga setempat mengatakan, sejumlah warga siaga di kawasan tanggul yang jebol. Kesiagaan warga juga lantaran belum ada pembenahan tanggul. Ditambah lagi pada beberapa waktu terakhir, cuaca sedang tak menentu.

“Katanya ada penanganan darurat untuk tanggul yang jebol ini. Namun sampai kini sekitar pukul 10.00 WIB, masih belum ada penanganan dari pihak yang terkait untuk membenahinya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (3/6/2017).

Menurut dia, kabarnya tanggul yang jebol akan kembali diuruk dengan tanah. Tumpukan tanah tersebut akan digunakan sebagai penahan air untuk sementara. Jika tanggul yang jebol tak kunjung diperbaiki, maka besar kemungkinan saat hujan deras, kejadian banjir bisa terulang.

“Padahal air yang memenuhi sungai ini juga kiriman dari wilayah utara Jekulo. Kemudian air berkumpul di sini dan memenuhi kawasan permukiman,” ungkapnya.

Dua petugas BPBD Kudus sebenarnya sudah mendatangi lokasi pagi tadi. Kedatangannya untuk mengecek, apakah tumpukan tanah sudah didatangkan ataukah belum.

Editor : Akrom Hazami

 

Rob Landa 2 Desa di Kecamatan Kedung Jepara

Seorang petani garam di Desa Surodadi Kecamatan Kedung, sedang mengarap lahan. Karena rob dan hujan petani urung memanen garam karena harus kembali mengeringkan lahan mereka, Sabtu (3/6/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Air rob melanda setidaknya dua desa di Kecamatan Kedung, yakni Desa Panggung dan Desa Surodadi. Fenomena alam ini telah berlangsung selama sepekan terakhir.

Khanifa (48) warga Desa Panggung mengatakan, sudah sejak seminggu belakangan air laut menggenang di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan di tempat yang lebih rendah, air mencapai rumah-rumah. 

“Kalau di tempat saya itu setinggi di atas mata kaki, namun tak sampai masuk rumah. Kalau lebih dalam di kampung sampai rumah. Biasanya kalau siang seperti ini sudah mulai meninggi tapi ini belum,” katanya, Sabtu (3/6/2017).

Menurutnya, air mulai meninggi sewaktu-waktu. Bisa pagi hari, siang hari atau saat petang. Ia mengatakan hal itu sudah menjadi rutinitas tahunan. 

Sementara itu, di Desa Surodadi air laut masuk ke lahan pembuatan garam. Ditambah dengan guyuran hujan, praktis petani garam hingga kini belum bisa berproduksi. 

“Ini robnya tergolong tinggi, kalau sudah begitu biasanya berlangsung sampai seminggu. Ditambah lagi ada hujan, saya jadi harus mengeringkan kembali lahan untuk kemudian dimasukan air laut sebagai bibit,” ungkap Samsudin(45) seorang petani garam. 

Ia mengatakan, pada tahun lalu keadaannya lebih baik. Pada bulan yang sama, ia mengaku telah menuai endapan garam dari lahannya. Namun kali ini, dirinya belum menikmati hasil garam. 

Selain di Panggung dan Surodadi, Samsudin menyatakan, rob juga terjadi di Desa Babalan yang ada di Kabupaten Demak. Bahkan ada yang sampai masuk rumah. 

Terpisah, Ketua Kelompok Petani Garam “Garam Makmur” Sukahar mengatakan hampir semua lahan tambak garam di Kecamatan Kedung terdampak rob. Hal itu mengakibatkan waktu panen yang mundur.

Menurutnya, sekitar 100 hektar lahan yang ada terdampak gejala alam itu. “Ya tidak bisa untuk mengendapkan garam, karena harus mengeringkan tambak lagi,” ujar Sukahar.

Editor : Kholistiono

Belasan Anggota DPRD Grobogan Kembalikan Sebagian Dana Reses, Ini Sebabnya

Anggota DPRD Grobogan saat melakukan kegiatan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengembalian sebagian dana untuk kegiatan reses tahun 2016 dilakukan sejumlah anggota DPRD Grobogan. Gara-garanya, ada laporan pertanggungjawaban yang dinilai tidak sesuai berdasarkan hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Informasi yang didapat menyebutkan, jumlah anggota yang diminta mengembalikan dana reses ada belasan orang. Besarnya pengembalian dana tiap orang berbeda-beda. Yakni, dari kisaran Rp 5 juta hingga Rp 50 juta.

Dana reses yang harus dikembalikan tersebut sudah disetorkan pada kas daerah pada akhir April lalu. Besarnya dana reses tahun 2016 yang diterima tiap anggota DPRD sekitar Rp 66 juta. Dana ini digunakan untuk menyelenggarakan tiga kali reses dalam setahun.

Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pengembalian dana reses tersebut. “Saya juga ikut mengembalikan dana reses sekitar Rp 27 juta. Pengembalian dana itu terkait tidak lengkapnya laporan pertanggungjawaban terkait makanan dan minuman saat menyelenggarakan reses,” jelasnya.

Dijelaskannya, pengadaan makanan dan minuman dilaksanakan anggota Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang ada di masing-masing lokasi reses yang jaraknya jauh dari pusat kabupaten. Untuk penyedia konsumsi di daerah pelosok yang dipakai reses banyak yang tidak memiliki kuitansi dan setempel. Hal itu membuat laporan pertanggungjawaban reses soal konsumsi dinilai tidak lengkap.

Terkait dengan pengembalian dana tersebut, pihaknya langsung mengadakan evaluasi sistem reses. Terutama, mengenai kelengkapan dokumen pertanggungjawaban reses yang harus dipenuhi.

“Saya minta semua anggota dan staf di sekretariat dewan mengevaluasi dokumen pertanggungjawaban reses. Hal ini untuk mengantisipasi agar pelaksanaan reses tidak ada kesalahan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Banjir Pladen Kudus Kini Telah Surut, Ini Harapan Warga

 

 

Petugas BPBD Kudus tampak memantau kondisi tanggul yang jebol di Dukuh Jawik, Pladen, Jekulo, Sabtu. (MuriaNewsCom/Fasiol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang melanda Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumat (2/6/2017) kini telah surut. Hal itu tampak saat MuriaNewsCom mendatangi lokasi pada Sabtu (3/6/2017). Sejumlah warga yang rumahnya terdampak banjir membersihkan sisa lumpur. Termasuk juga membersihkan halaman rumah, hingga permukaan jalan.

Sumo (60) warga setempat berharap agar tanggul yang jebol dibenahi, agar jika hujan deras kembali, kejadian kerusakan tanggul tak terulang. “Kalau bisa, malah dibuat tanggul yang permanen, jadi jika ada gelontoran air masih kuat menopang,” kata Sumo.

Menurutnya, banjir yang menimpa Desa Pladen rupanya tak hanya disebabkan dari satu tanggul yang jebol, tapi ada tanggul lain yang juga ambrol.  Lokasinya tak begitu jauh dari tanggul pertama yang jebol.

Kusnandar (47) warga setempat menuturkan tanggul sungai yang jebol pertama berada di depan rumahnya. Tanggul jebol terjadi saat kawasan tersebut sedang diguyur hujan deras. “Tapi setelah malam ternyata air tak hanya datang dari depan rumah saja. Namun juga dari belakang rumah, setelah lagi tadi dilihat, ternyata ada satu tanggul lagi di kawasan persawahan yang juga jebol,” kata Kusnandar.

Jebolnya tanggul dengan panjang kisaran 20 meter. Tanggul jebol lantaran tak kuat menahan air yang amat deras. Apalgi tanggul tersebut terbuat dari tanah bekas kerukan sungai. Sungai di lokasi itu baru dinormalisasi, beberapa pekan lalu. Beberapa hari sebelum puasa, juga tampak pekerjaan pengerukan sungai.

Editor : Akrom Hazami

Mahasiswa UMK Rancang Alat Pengering Ikan Asin Tenaga Angin

Pemasangan rangkaian elektronik yakni merancang automatic fish dryer. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Terinspirasi membantu meningkatkan produktivitas nelayan Kabupaten Pati, khususnya di Dukuhseti, yang banyak warganya jadi nelayan dan memproduksi ikan asin, empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) merancang alat pengering ikan (automatic fish dryer) dengan menggunakan tenaga angin.

Keempat mahasiswa itu adalah Ahmad Edi Waluyo dan M Imha Ainun Najib (Prodi Teknik Informatika), Erna Mutiasari (Prodi Agroteknologi) dan Miftahul Inayah (Prodi Akuntansi) dengan Rina Fiati ST. MCs. sebagai dosen pembimbing.

‘’Di daerah pesisir Kabupaten Pati, banyak nelayan yang juga memproduksi ikan asin. Namun proses produksinya masih konvensional, yakni dijemur di bawah terik matahari,’’ ujar salah satu dari mereka, Edi Waluyo.

Edi dan teman-temannya tersebut melihat, proses pengeringan secara konvensional ini memakan waktu lama. ‘’Proses pengeringan ikan asin dengan cara konvensional, bisa memakan waktu dua hari,’’ paparnya.

Untuk itulah, dia dan teman-temannya pun melakukan observasi dan kajian, yang akhirnya muncul ide membuat automatic fish dryer dengan menggunakan tenaga angin. Mesin automatic fish dryer rancangan mahasiswa UMK ini memiliki tinggi mesin 120 cm dan lebar 40 cm, dengan kapasitas 3 rak atau sekitar 3 kg.

Menurut keterangan Edi dan teman-temannya, mesin rancangannya itu memiliki keunggulan untuk proses produksi ikan asin bagi para nelayan, karena waktu pengeringan yang dibutuhkan jadi lebih singkat. ‘’Hanya butuh waktu sekitar 6 jam saja,’’ ungkapnya.

Mengenai energi angin yang dipergunakan, jelasnya, karena di daerah pesisir itu kaya energi angin, yang bisa dimanfaatkan untuk energi listriknya, sehingga bisa hemat. ‘’Keunggulan lain automatic fish dryer dengan menggunakan tenaga angin ini, yaitu tidak terpatok pada cuaca. ‘’Dengan mesin ini, musim hujan pun nelayan bisa memproduksi ikan asin,’’ paparnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Jejak Masjid Tertua di Pati Peninggalan Wali

Sejumlah pegiat sejarah Pati mengunjungi Masjid Baiturrahim di Dukuh Gambiran, Sukoharjo, Margorejo yang ditengarai tertua di Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Siang itu, pada bulan suci Ramadan, sejumlah penduduk Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Margorejo melaksanakan ibadah salat dhuhur di Masjid Baiturrohim.

Sebagian ada yang membaca Alquran, beberapa tampak istirahat, seusai salat. Suasana masjid ini terbilang cukup lengang, tak seperti masjid-masjid agung besar lainnya.

Wajar saja, masjid yang terlihat direnovasi dengan warna hijau muda ini terletak di pinggir jalan perkampungan, cukup jauh dari jantung kota Pati. Namun, siapa sangka bila masjid ini ternyata disebut-sebut paling tua di Pati.

MuriaNewsCom mendatangi masjid ini bersama sejumlah pegiat sejarah Pati. Salah satu yang mencoba menjelaskan sejarah menggunakan penanda di pintu masjid adalah Sugiono atau yang akrab disapa Mbah Gik.

Tak semua orang bisa membaca penanda itu, karena menggunakan huruf bahasa Arab pegon. Yakni, huruf Arab yang bila dibaca memiliki bahasa dan makna Jawa. Bahkan, satu-dua kata ditemukan bahasa Belanda.

Dalam penanda itu, Sugiono menemukan bahwa Masjid Baiturrohim dibangun pada sekitar 1446, era Walisongo. Sementara penanda sendiri dibuat oleh penguasa Pati di era Belanda pada abad ke 17.

“Kita juga bisa melihat empat pilar masjid yang dibuat dari kayu jati utuh langsung dari pohon. Kayu jati dibentuk persegi memanjang dengan pahatan sederhana tanpa sentuhan modern. Juga ada mihrab kuno yang usianya sama dengan empat pilar masjid,” ungkap Sugiono.

Seperti cerita tutur yang berkembang di masyarakat, dia meyakini bahwa empat pilar dan kayu-kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berasal dari Kayu Bralit, seorang tokoh terkemuka yang menjadi Bupati Pati pertama pada abad ke-15. Itu diperkuat dengan catatan de Graaf.

Terlebih, Gambiran dulunya merupakan ibukota Kadipaten Pati, sehingga wajar bila ada upaya pembangunan masjid di kawasan kota, beriringan dengan munculnya agama Islam. Sebab, abad ke-15 merupakan peralihan dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit dengan latar belakang Hindu-Buddha menuju Kesultanan Demak yang berlatar Islam.

Sugiono menambahkan, pembangunan masjid di Gambiran bersamaan dengan dibangunnnya masjid di tengah-tengah kota Demak. Karena itu, pembangunan masjid Gambiran sempat ditunda, karena Raden Santikusumo atau dikenal Sunan Kalijaga berangkat ke Demak untuk memenuhi tugas-tugasnya.

Pembangunan kemudian dilanjutkan seorang tokoh yang dikenal penduduk setempat sebagai Mbah Cungkruk. “Kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid Gambiran sangat istimewa, karena diambil dari hutan di Semenanjung Muria, saat Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa,” tuturnya.

Selain empat pilar masjid, mihrab dan pintu, ada pula tempat semacam kolam kuno yang dulu digunakan untuk bersuci sebelum salat. Kolam itu tepat berada di pinggir jalan dan sudah tidak digunakan lagi.

Editor : Kholistiono

Persijap Incar Kemenangan di Jatidiri

Suasana latihan tim Persijap di Stadion Gelora Bumi Kartini, beberapa saat lalu.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Persijap memboyong 25 pemain untuk menghadapi PSIS, pada laga persahabatan di Stadion Jatidiri, sore ini. Ajang ini akan dimanfaatkan anak-anak Fernando Sales untuk menjajal strategi dan memainkan pemain baru sebelum memasuki kompetisi di bulan Juli. 

Kepada MuriaNewsCom, Pelatih Persijap Fernando Sales mengatakan, timnya siap menghadapi Mahesa Jenar. Ia mengincar kemenangan untuk meningkatkan kepercayaan diri menghadapi kompetisi Liga 2 yang akan bergulir kembali pada bulan Juli nanti.

“Sampai saat ini, semua pemain kami belum ada yang mengalami cidera. Pada pertandingan kami tentu saja ingin memenangkannya. Hal ini untuk memberikan rasa percaya diri kepada tim bergerak maju untuk mencapai tujuan kami,” katanya, Sabtu (3/6/2017). 

Di samping tujuan di atas, Sales juga mengungkapkan keinginannya utuk dapat melihat performa beberapa pemain. Hal itu karena, jeda antara putaran pertama dan kedua yang dinilainya tak cukup untuk melihat permainan sebagian dari pemainnya.

Dilansir dari fanpage Persijap, ada empat pemain yang dibawa ke Semarang. Mereka adalah Tommy Oropka (penyerang), Nurmufid Fastabiqul Khoirot (pemain bertahan) Joko Tutuko (penyerang) dan Syahrul Romadhon (penyerang). 

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pada laga kontra PSIS yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 20.30 WIB itu, Sales ingin menjajal strategi baru. 

“Laga ini adalah kesempatan bagi saya untuk melihat kemampuan pemain anyar, mencoba formasi baru dan memberikan kesempatan bagi pemain yang sering berada di bangku cadangan untuk bermain serta tentu saja menyiapkan tim untuk berlaga di dua pertandingan sebelum masuk ke putaran kedua,” imbuh pelatih asal Brazil ini. 

Ditanya mengenai racikan strategi, Sales menginstruksikan pemainnya untuk tidak kaku namun lebih fleksibel menyikapi pertandingan. 

“Strategi lebih kompleks dari sekedar formasi 1-3-4-3, 1-4-2-3-1 atau 1-4-4-2, tentu saja kita telah memiliki strategi. Mereka (pemain Persijap) tahu di mana dan bagaimana saya instruksikan mereka untuk menekan, bagaimana mereka menata garis pertahanan. Namun, permainan selalu berubah setiap waktu. Yang lebih penting dari formasi adalah, setiap pemain harus bersiap untuk segala macam keadaan,” tutup Sales. 

Editor : Kholistiono

Begal Truk di Rembang Tewas Nyemplung Jurang saat Hindari Kejaran Polisi

Jasad Agus alias Jabrik saat ditemukan polisi di jurang Desa Langgar, Kecamatan Sluke. Pelaku akan melakukan pembegalan terhadap sopir truk di kawasan Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Agus alias Jabrik (37), salah satu pelaku yang akan melakukan pembegalan terhadap sopir truk tewas terjatuh ke jurang di kawasan Desa Langgar, Kecamatan Sluke, Jumat (2/6/2017). Warga Desa Kauman, Kecamatan Lasem itu, terjatuh ke jurang sedalam 8 meter saat berlari menghindari kejaran polisi.

Sementara satu rekan pelaku yakni, Rahmad, warga Desa Soditan, Kecamatan Lasem, berhasil dibekuk polisi, ketika juga akan berusaha melarikan diri.

Informasi yang dihimpun di lapangan, peristiwa upaya pembegalan tersebut terjadi ketika truk bernomor BD 8653 KE yang dikemudikan oleh Suparman warga Kelurahan Air Bang, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, dengan tujuan Bengkulu-Surabaya, melintas di pertigaan lampu merah Lasem.

Ketika di tempat ini pada Jumat (2/6/2017), sekitar pukul 21.15 WIB, truk bermuatan perabotan rumah tangga tersebut tiba-tiba dipepet dua orang yang mengendarai sepeda motor jenis RX King bernomor polisi K 4555 KE.

Pengendara sepeda motor tersebut meminta agar truk yang dikendarai Suparman itu berhenti. Namun oleh Suparman, tak mau menghentikan kendaraannya, karena curiga pengendara tersebut akan melakukan tindakan kejahatan.

“Mereka itu sampai empat kali menghentikan saya, tapi saya tak mau berhenti. Karena saya curiga mereka ini akan bertindak jahat. Sebab, di bagian belakang pinggang mereka saya melihat sesuatu yang menonjol seperti celurit,” ujar Suparman.

Meski terus dipepet, namun sopir tersebut terus melajukan kendaraannya, hingga akhirnya sampai di Mapolsek Sluke. Suparman akhirnya turun dan melaporkan kejadian yang dialaminya kepada polisi yang berjaga.

Mendapatkan laporan tersebut, polisi jaga yakni Bripka Didik dan Bripka Dodik lalu melakukan pengejaran terhadap pelaku dengan menggunakan mobil police backbone dengan ditemani sopir truk untuk menunjukkan arah pelaku.

Dalam pengejaran tersebut, yang awalnya pelaku kabur ke arah timur, tiba-tiba berbalik arah, dan polisi dan pelaku berpasasan di wilayah Jati Sari. Melihat pelaku, kemudian polisi langsung menggejar polisi

“Ketika berpasasan di Jatisari, kita sempat memberhentikannya sebanyak dua kali. Yakni di depan SD dan BRI. Tapi, pelaku tak menghiraukan kami, dan justru terus melajukan kendaraannya dengan kencang,” kata Bripka Didik.

Tak mau buruannya hilang, polisi juga tancap gas, dan sempat menghadangnya di pertigaan Sluke, yakni arah Desa Langgar. Polisi pun meminta keduanya berhenti, namun tetap tak dihiraukan pelaku. Hingga akhirnya, polisi dapat menghentikan keduanya di area Gapura Desa Langgar. Kedua pelaku pun turun dari kendaraan.

“Satu dari pelaku yakni Agus, turun dan tiba-tiba menodongkan celurit kepada kami, dan berupaya mendekati kami untuk membacok. Tapi kami tak gentar. Saya pun kemudian memberikan tembakan peringatan ke atas,” imbuh Bripka Didik.

Saat ada tembakan peringatan itu, Agus langsung melarikan diri sambil melemparkan senjatanya. Ketika berlari itu, tak disangka oleh Agus, ternyata di depanny ada jurang, sehingga terjatuh ke jurang dan akhirnya meninggal.

Sementara itu, pelaku lainnya atas nama Rahmad dapat ditangkap polisi dengan tanpa perlawanan. Di sisi lain, jasad Agus yang terjatuh ke jurang dapat ditemukan polisi pada Sabtu (3/6/2017) dini hari.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengimbau, kepada semua warga dan para pengguna jalan pantura, untuk tidak ragu melapor ke polisi jika melihat adanya tindakan kejahatan.

“Bilamana mereka mengalami ha serupa, maka bisa melaporkan ke polsek terdekat. Dan jika disuruh berhenti, maka jangan mau dan terus lajukan kendaraan hingga menjumpai polsek terdekat untuk segera malapor,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

Tanggap Bencana, NU Kerja Sama dengan Australia

Rombongan Tim Monev Lembaga penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pusat melakukan kegiatan di Kudus, di pendapa kabupaten setempat. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Rombongan Tim Monev Lembaga penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pusat melakukan kegiatan di Kudus, di pendapa kabupaten setempat, beberapa hari lalu.

Mereka bersama Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) dan Departement Of Foreigh Affairs and Trade (DFAT) perwakilan Dubes Australia disambut Sekda Kabupaten Kudus Nor Yasin.

Ketua LPBI NU pusat M Ali yusuf mengatakan Kudus dipilih karena berdasarkan data dari BNPB Jawa Tengah, termasuk tiga besar rawan bencana se-Indonesia.

“Kesiapsiagaan bencana tidak hanya relawan, namun lebih penting dari masyarakat. Karena yang mengenal daerahnya dan kali pertama terdampak. Ke depan, kami akan memberi pengerahan dan pelatihan tanggap bencana sejak dini kepada masyarakat,” kata Ali dalam rilis persnya. 

Dia menjelaskan,  program kesiapsiagaan dari LPBI NU ini,  sudah berjalan sejak 2016. Juga bekerja sama dengan pemerintah Australia melalui DFAT. 

Selain itu ada rencana membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Forum ini sebagai wadah kordinasi antar lembaga,  ormas, relawan, pemerintah daerah dan dunia usaha. Tujuannya, agar bantuan disalurkan nantinya tidak saling tumpuk dan pembagian tugas lebih jelas. 

Dari Kedutaan Australia Piter Edward mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB)  yang memiliki kewenangan terhadap tanggap bencana di Indonesia.

“Memang lembaga yang bergerak di bidang siaga bencana di Indonesia banyak. Mereka juga luar biasa,  sebab relawannya siap terjun ke medan terberat sekalipun,” terangnya. 

Sementara itu Ketua LPBI NU Kabupaten Kudus Gufron mengatakan, jumlah anggotanya ada 79 orang,  tapi yang telah mengikuti pelatihan tanggap bencana sekitar 25 anggota.

Mereka di latih segala hal yang berkaitan dengan kebencanaan, “Monitoring evaluasi ini,  sungguh bermanfaat.  Kami mendapatkan masukan dari pusat yang harus diperbaiki di daerah,” jelasnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

Harga Bawang Putih di Kudus masih Tinggi


Kepala Bidang Fasilitas Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Imam Prayitno. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sepekan Ramadan berlalu, harga bawang putih di Kudus masih cenderung tinggi. Bahkan, Jumat (2/6/2017) harga bawang putih Rp 55 ribu per kilogramnya untuk jenis cutting.

Kepala Bidang Fasilitas Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Imam Prayitno mengatakan, harga bawang putih di tiga pasar tradisional Kudus tinggi dengan rata-rata Rp 55 ribu per kg. Atas dasar itulah,operasi pasar (OP) dilaksanakan.

“Sebenarnya tujuan OP memang menekan harga, namun ternyata harganya tak sesuai perkiraan dan untuk bawang putihnya malah jenisnya yang tak disukai masyarakat Kudus yakni hinan,” katanya 

Menurut dia, bawang putih Rp 55 ribu per kg  itu merupakan jenis cutting yang unggul atau yang besar. Sedang untuk hinan, masyarakat Kudus tak tertarik, maka pedagang tak menjualnya. 

Imam menjelaskan, selain Kudus, beberapa wilayah lain juga fanatik dengan bawang jenis cutting. Seperti Jepara, Demak, Semarang dan beberapa wilayah di Pati dan sebagian Rembang.

Dia mengatakan, usai melakukan OP pagi tadi, pihaknya langsung melakukan pantauan stok di Pasar Bitingan Kudus. Di sana, dijumpai adanya tumpukan bawang putih jenis cutting, namun tak diminati masyarakat. Itu disebabkan bawang tersebut berukuran kecil.

“Padahal cukup banyak stoknya, dan harganya cukup murah yaitu Rp 30 ribu saja per kilogram. Namun kembali lantaran ukuran yang kecil, sehingga tak begitu diminati,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Asyiknya Ngabuburit di Waduk Kedung Ombo Grobogan Sambil Nikmati Pemandangan

Warga tampak menikmati pemandangan objek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tempat yang jadi tujuan orang untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit ternyata tidak hanya di kawasan kota saja. Tetapi, di objek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) Grobogan juga jadi tempat pilihan banyak orang untuk ngabuburit.

Sejak awal puasa, arus kendaraan menuju kawasan objek wisata selalu ramai tiap sore. Terutama, pengunjung yang menggunakan sepeda motor. Kebanyakan, pengunjung datang berombongan.

“Pengunjung tidak semuanya masuk ke lokasi wisata. Banyak yang berhenti di pinggiran jalan untuk foto-foto,” kata Sujati, warga di sekitar kawasan WKO, Jumat (2/6/2017)

Bagi pengunjung, selain menikmati suasana alam, ada momen yang ditunggu saat ngabuburit. Yakni, pemandangan indah saat matahari terbenam atau sunset saat senja tiba.

“Kalau pas cuaca cerah, pemandangan sunset di Kedung Ombo cukup indah. Saya sudah sering menikmati sunset di Kedung Ombo bareng teman-teman,” ungkap Vita, salah seorang pengunjung WKO.

Selain menunggu waktu buka puasa, sebagian orang yang datang ke WKO bermaksud membeli oleh-oleh khas. Yakni, ikan bakar segar untuk menu berbuka.

Menu khas ini banyak dijual di dalam kawasan objek wisata. Namun, banyak pula warung di sepanjang jalur menuju objek wisata yang menyediakan ikan bakar segar.

 

Editor : Akrom Hazami

Banjir Pladen Kudus, Relawan Siaga di Lokasi

Camat Jekulo (jilbab) Dwi Yusi mendatangi lokasi banjir di Desa Pladen Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumat malam. (ISTIMEWA) 

MuriaNewsCom, Kudus  – Ratusan relawan membantu evakuasi banjir di Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumat (2/6/2017). Relawan turun tangan yang bersumber dari BPBD Kudus, Kecamatan Jekulo, dan masyarakat setempat.

Camat Jekulo Dwi Yusi Sasepti, mengatakan kalau ratusan relawan sudah bersiaga semenjak sore tadi. Rencananya, para relawan akan tetap siaga selama banjir untuk mengatasi semaksimal mungkin.

“Banjir disebabkan hujan yang mengguyur wilayah Pladen, sehingga menyebabkan tanggul di wilayah sana jebol. Tanggul yang jebol berukuran cukup panjang, mencapai 20 meter,” katanya kepada MuriaNewsCom. 

Yusi menyebutkan, banjir masih menggenangi hingga malam ini.  Para relawan sampai malam ini masih berupaya membendung jebolan tanggul guna mengatasi air yang meluber ke permukiman warga.

Menurut dia, karena aliran yang cukup deras serta panjangnya tanggul yang jebol, membuat relawan yang membantu cukup kewalahan. Karena, saat satu sisi jebolan ditangani, sisi lainya kembali jebol. Atas hal itulah penanganan cukup memakan waktu.

“Kami berupaya mengalirkan air pada sungai, agar tak makin banyak masyarakat yang terdampak. Selain itu, melihat curah air yang banyak besar kemungkinan besok baru surut,” ujarnya.

Saat ini, lokasi banjir di RT 2 RW 5, dengan sekitar 60 rumah yang terdampak. Sedangkan korban atas banjir tersebut mencapai 250 warga. 

Editor : Akrom Hazami

Pekerjaan TKI masih jadi Idaman Warga Grobogan

Anggota DPR RI Imam Suroso menyampaikan beberapa persoalan seputar TKI dalam acara sosialisasi peluang kerja ke luar negeri yang digelar di pendapa kabupaten, Sabtu (8/4/2017) (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski banyak masalah yang menimpa TKI di luar negeri namun hal itu tidak mengurangi minat masyarakat Grobogan untuk mengaiz rezeki di negeri orang. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya orang yang mendaftarkan diri untuk bekerja jadi TKI. Bahkan, tidak jarang mereka rela mengeluarkan biaya besar sekalipun nantinya hanya ditempatkan menjadi pembantu rumah tangga.

”Sejauh ini, kerja jadi TKI masih banyak peminatnya, utamanya kaum perempuan. Setiap tahun, lebih 1.000 orang yang kerja jadi TKI di berbagai negara,” ujar Kasi Penempatan Penempatan Tenaga Kerja Dinakertrans Grobogan Sugiyarto, Jumat (2/6/2017).

Dijelaskan, pada tahun 2012 dan 2013 lalu ada sekitar 2.000 orang yang bekerja jadi TKI. Sementara pada tahun 2014 dan 2015 lalu tercatat ada sekitar 1.300  warga Grobogan yang kerja jadi TKI. Dari jumlah ini, sebanyak 75 persennya adalah perempuan.

Sebagian besar TKI asal Grobogan memilih bekerja di sejumlah negara yang berada di kawasan Asia Pacific. Seperti di Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korea dan Singapura yang dirasa lebih dekat jaraknya dan gajinya dinilai cukup tinggi.

Menurut Sudiyarto, beberapa waktu lalu, negara tujuan utama TKI adalah kawasan Timur Tengah khususnya Arab Saudi. Namun, pengiriman TKI di Arab Saudi sudah tidak dilakukan karena ada moratorium pemerintah. Pilihan TKI saat ini beralih ke Taiwan dan Hongkong sebagai negara tujuan bekerja.

Untuk data tahun 2016, jumlah pencari kerja ke luar negeri ada 1.264 orang. Dari jumlah ini sebanyak 668 orang bekerja di Taiwan. Disusul kemudian ke Hongkong 317 orang dan Singapura 179 orang. Sedangkan sisanya tersebar di Malaysia, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Brunai, dan Korea.

Editor : Akrom Hazami